Pengalaman Naik Emirates Airlines dari Kuala Lumpur ke Amsterdam

by - Monday, July 30, 2018

Setelah membandingkan harga tiket pesawat beberapa maskapai penerbangan tujuan Amsterdam, ternyata saat itu yang paling murah adalah Malaysia Airlines. Tanpa pikir panjang, akhirnya terbelilah tiket pesawat Kuala Lumpur - Amsterdam - Kuala Lumpur dengan transit di Dubai.


Kenapa pilih keberangkatan di Kuala Lumpur? Karena dari Kuala Lumpur lebih banyak pilihan maskapai menuju ke Amsterdam. Yang pasti, harganya jauh lebih murah dibandingkan kalau berangkat dari Jakarta. Selisihnya bisa sampai 4-5 juta. Sementara dari Jogja menuju ke Kuala Lumpur menggunakan AirAsia yang harganya tidak lebih dari 1 juta. Lumayan bisa hemat kan?

Yang paling bikin bahagia adalah saat terima email konfirmasi pembayaran ada pemberitahuan bahwa penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Amsterdam akan menggunakan pesawat Emirates Airlines. Kedua maskapai tersebut memang punya kerjasama. Arghh, senang sekali rasanya. Dulu yang paling bikin tertarik dengan maskapai dari Uni Emirat Arab ini adalah seragam pramugarinya yang cukup unik. Terutama topi kecil yang mirip jilbab itu.


Deg-degan takut ketinggalan pesawat


Sebenarnya ada jeda 4 jam dari penerbangan pertama ke penerbangan berikutnya. Tapi ternyata jadwal keberangkatan dari Jogja menuju Kuala Lumpur harus tertunda selama 30 menit. Akhirnya setelah mendarat di KLIA2 buru-buru setengah berlari menuju ke Imigrasi karena harus pindah terminal ke KLIA yang jaraknya cukup jauh dan harus menggunakan kereta.

Ternyata antrian Imigrasi sangat panjang karena banyak sekalian wisatawan yang akan masuk ke Malaysia. Walaupun sudah ada antrian khusus pemegang paspor negara ASEAN, tapi tidak mengurangi panjang antrean karena ternyata banyak orang dari luar ASEAN yang ikut berbaris di antrian khusus ini. Entah karena mereka tidak tau atau karena pura-pura tidak tau, terutama turis-turis dari Cina Daratan yang datang bergerombol. Butuh waktu lebih dari satu jam dengan perasaan cemas untuk bisa keluar dan mendapat stempel dari Imigrasi. Tanpa babibu, selepas dari Imigrasi lalu lari menuju ke tempat pengambilan bagasi dan membeli tiket kereta menuju KLIA. Untung masih punya sisa beberapa Ringgit waktu jalan-jalan ke Malaysia beberapa bulan lalu, jadi tidak perlu ke money changer lagi.

Beruntung saya belum terlambat dan tinggal drop bagasi di kounter Emirates karena sebelumnya sudah melakukan online check-in. Mungkin sedikit tips untuk yang akan melakukan connecting flight tetapi berbeda maskapai penerbangan seperti saya. Pilih jeda penerbangan yang cukup lama. 

Karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi. Entah flight pertama kita yang delay atau antrean Imigrasi yang panjang. Tapi yang paling penting sih asuransi perjalanan. Karena kalau ada apa-apa bisa diganti sama pihak asuransi.


Emirates EK347 Kuala Lumpur - Dubai



KLIA cukup besar. Harus benar-benar teliti mencari pintu tempat keberangkatan kita, apalagi kalau waktunya sudah mepet. Dari counter check-in menuju ke boarding room harus menggunakan kereta otomatis yang berjalan tanpa awak. Walaupun cukup modern, ruangan dalam KLIA ini sangat hijau. Masih banyak pepohonan yang dipertahankan dengan dibatasi kaca.

Perjalanan dari Kuala Lumpur menuju ke Amsterdam akan dibagi menjadi dua penerbangan, yaitu Kuala Lumpur - Dubai dan Dubai - Amsterdam dengan masa jam transit 9 jam. Ya, 9 jam. Karena itu kombinasi penerbangan dengan harga termurah. Mau ga mau harus transit cukup lama.



Penerbangan KUL-DXB menggunakan pesawat Airbus b777, sementara DXB-AMS menggunakan pesawat  Airbus a380. Jenis pesawat penumpang terbesar saat ini yang terdiri dari 2 tingkat. Mungkin banyak traveler yang menjadikan Airbus a380 ini salah wishlist mereka. Saya cukup beruntung bisa merasakan Emirates Airbus a380 ini walau hanya di kabin ekonomi.

Sebelum masuk pesawat, diumumkan bahwa penumpang harus masuk sesuai dengan zona tempat duduk seperti yang tertera di tiket. Zona tempat duduk terdiri dari A-F. Karena berasal dari Timur Tengah, pengumuman pertama menggunakan bahasa Arab, kemudian Inggris, dan Melayu. Yang dipersilah masuk pertama adalah penumpang first class, bussines class, kemudian economy class.


Fasilitas dalam pesawat Emirates


Penerbangan Kuala Lumpur ke Dubai ditempuh kurang lebih selama 8 jam. Selama itu di pesawat bosen juga kan harus ngapain? Apalagi saya termasuk orang yang susah tidur kalau di pesawat. Sampai sekarang masih sering was-was dan ketakutan sendiri saat berada di dalam pesawat. Terutama saat ada sedikit guncangan. Walaupun menggunakan pesawat  Airbus b777 yang besar dan guncangannya lebih kecil. Tapi tetap saja pikiran tidak bisa tenang dan ingin cepat sampai.



Format tempat duduk Emirates EK347 adalah 3-4-3. Setiap tempat duduk di pesawat Emirates dilengkapi dengan seperangkat alat entertainment yang disebut ICE. Ada sebuah monitor lengkap dengan remote control dan headset yang akan diberikan oleh pramugara. Ada banyak film, musik, atau siaran TV yang bisa dipilih untuk menghilangkan kegundahan selama perjalanan. Ada beberapa musik dan film Indonesia juga dalam playlist. Beberapa game juga bisa dimainkan. Tapi karena saya tidak suka games, jadi saya sama sekali tidak melihat ada games apa saja.



Setiap tempat duduk juga dilengkapi dengan USB charger dan colokan listrik biasa.
Yang paling saya suka adalah fasilitas Wi-Fi. Kalau fasilitas yang satu ini memang tidak gratis, tapi cukup murah. Yaitu hanya 1 USD sepuasnya sepanjang penerbangan. Bayarnya harus menggunakan kartu kredit. Lumayan murah kan? Jadi selama di pesawat bisa tetap aktif di media sosial melalui hp atau laptop kalau-kalau udah bosen lihat film atau dengar musik. Kecepatan internetnya lumayan kencang.



Soal makanan, kalau kelas ekonomi memang tidak banyak pilihan. Pilihannya paling antara ayam atau kambing. Sebagian besar menu makanannya adalah Arabian Food atau Western Food. Kalau masalah minuman bisa request sepanjang perjalan dengan banyak pilihan mulai dari air putih, jus buah, bir, dan wine.




Transit di Dubai 9 jam


Sebelum berangkat, sudah kepikiran duluan mau ngapain selama 9 jam di Dubai. Karena sampai di sana tengah malam, ga punya visa transit juga. Jadi mau ga mau harus tetap stay di dalam bandara.

Bandara Dubai ini besar dan mewah sekali. Dari terminal satu ke terminal lain harus menggunakan kereta. Ditambah dengan berjalan kaki yang lumayan jauh. Walaupun tengah malam, bandara masih sangat ramai. Karena semua penumpang Emirates dari berbagai belahan dunia berhenti dan transit di bandara ini untuk kemudian berganti dengan pesawat selanjutnya untuk ke tujuan akhir.



Saya sengaja tidak menukar uang UAE karena berpikir hanya 9 saja di Dubai. Untungnya, semua penumpang Emirates yang transit lebih dari 4 jam mendapatkan kupon makan gratis yang bisa ditukar   ke beberapa restoran yang ada di Bandara Dubai sesuai dengan kelas penumpang. Syukurlah, jadi tidak terlalu kelaparan harus menunggu selama 9 jam. Buat nambah isi perut selain Sari Roti yang yang saya beli di Indomaret dan masih utuh sampai Dubai.

Add caption


Enaknya di dalam Bandara Dubai ini ada fasilitas kamar mandi gratis untuk para penumpang. Kamar mandinya sangat bersih dilengkapi juga dengan air panas. Lumayan bisa menghilangkan pegal-pegal setelah duduk selama 8 jam di pesawat. Sayangnya sih tidak ada fasilitas handuk gratis, jadi harus bongkar tas sendiri untuk ambil handuk.

Kalau masalah Wi-Fi, Bandara Dubai ini cukup pelit. Wi-Fi gratis hanya akan diberikan selama 1 jam pertama. Selanjutnya ya harus beli dengan kartu kredit dengan harga yang lumayan mahal. Karena tidak terlalu butuh dan lumayan capek setelah keliling dan melihat-lihat, akhirnya saya putuskan saja untuk tidur di kursi ruang tunggu.
Oh ya, Bandara Dubai ini memang benar-benar mewah. Barang-barang yang dijual di duty free pun banyak barang-barang bermerk seperti LV atau Hermes. Terlihat lebih seperti mall yang ada di dalam bandara. Setiap waktu salat, ada adzan yang berkumandang.

Pengalaman unik lain yang saya dapatkan selama di Bandara Dubai adalah sering diajak ngobrol orang dengan bahasa Tagalog. Banyak orang Filipina yang bekerja di sini. Mulai dari saat hendak tanya arah sampai minta voucher makan, pertamanya pasti diajak ngomong dengan bahasa Tagalog.


Emirates EK147 Dubai-Amsterdam


Perjalanan berikutnya adalah Dubai menuju Amsterdam dengan menggunakan Airbus a380. Tidak banyak perbedaan yang bisa saya rasakan. Fasilitas dan makananannya pun sama. Yang beda adalah penumpangnya. Jika sebelumnya penumpang didominasi orang Arab, perjalanan dari Dubai menuju Amsterdam lebih banyak diisi oleh orang kulit putih.



Mudah-mudahan suatu saat bisa merasakan juga Emirates yang first class atau bussines class. Biar bisa tau bedanya dengan kelas ekonomi :D.

You May Also Like

0 komentar