Search This Blog

April 20, 2019

,
Pernah makan dengan ditemani suara gemericik air sungai yang menenangkan? Yang pasti tempat seperti ini tidak akan bisa kita jumpai di tengah kota. Kalau mau coba sensasi yang berbeda saat berwisata kuliner, Joglo Pari Sewu bisa jadi salah satu tempat yang harus masuk daftar tempat makan yang wajib dikunjungi di Jogja. Apa sih istimewanya Joglo Pari Sewu?



Joglo Pari Sewu terletak di Bromonilan, Kalasan,Sleman. Tidak terlalu jauh dari Candi Sambisari yang merupakan salah satu candi tercanti yang ada di Jogja. Bromonilan sendiri merupakan salah satu desa wisata rintisan di Kabupaten Sleman yang baru saja diresmikan pada akhir tahun 2018 lalu.



Kali Kuning yang sumber airnya mengalir dari kaki Gunung Merapi mengalir tepat disamping Joglo Pari Sewu. Aliran sungai dibelah oleh sebuah jembatan sehingga tampak menjadi seperti sebuah air terjun kecil yang menimbulkan suara gemericik air. Aliran sungai tersebut juga dibendung jadi bisa digunakan untuk berenang. Tidak perlu khawatir, air yang mengalir cukup bersih dan segar.



Sesuai dengan namanya, bangunan utama dari Joglo Pari Sewu adalah sebuah joglo tradisional yang letaknya lebih tinggi. Di joglo ini tersedia beberapa kursi dengan pemandangan langsung menghadap ke arah sungai yang tepat persis di bawahnya.



Kalau cuaca sedang mendukung, terutama kalau datang ke sini pada pagi hari pilihan meja dan kursi yang berada di ruang terbuka persis dipinggir sungai bisa jadi pilihan yang tepat. Selain bisa mendengar sauara gemericik air lebih jelas, kita juga bisa merasakan sensasi hembusan angin segar karena tempat ini dikelilingi oleh rumpun bambu yang cukup banyak. Suasananya benar-benar bisa menenangkan pikiran.



Kalau masalah makanan, di Joglo Pari Sewu tersedia berbagai menu yang bisa dipilih. Ada menu prasmanan maupun menu ala carte. Beberapa jenis makanan yang bisa kita pilih pada menu prasmanan antara lain sayur lodeh,oseng daun kates, bakwan jagung, semur jengkol, ikan pindang lumpur, telur dadar, tempe garit dan berbagai jenis sate. Sebagai pelengkapnya ada berbagai jenis jajanan tradisional seperti bubur,rondo royal, dan singkong presto.



Semua makanan tersebut bisa dinikmati cukup dengan membayar Rp20.000 setiap hari kerja mulai pukul 07.00-09.00 pagi. Cukup murah kan? Nah kalau setiap akhir pekan beda harga lagi, menu prasmanan dipatok dengan harga Rp25.000 dan menggunakan sistem kupon. Sementara untuk menu lain diluar menu prasmanan yang menjadi andalan di Joglo Pari Sewu adalah ayam jembar dan ayam geprek. Untuk minuman tersedia banyak pilihan mulai dari jamu sampai kopi.



Untuk yang hobi berswafoto, di Joglo Pari Sewu juga terdapat Rumah Boneka. Di dalam Rumah Boneka ini kita akan menjumpai banyak sekali boneka seperti Hello Kitty dan Tedy Bear di dalam ruangan yang cukup instagramable. Di sini juga ada terapi ikan yang bisa dicoba untuk yang bisa tahan dengan geli.



Penasaran mau ke sini? Lokasinya cukup gampang kok untuk dicari, cukup ikuti petunjuk dari Google Map. Jalanan sampai lokasi Joglo Pari Sewu cukup bagus baik untuk sepeda motor atau mobil.




January 17, 2019

,
Setelah tahun lalu berhasil menelurkan serial berjudul "Halustik" dan "Knock Out Girl", tahun 2019 ini Viu Pitching Forum hadir kembali untuk mencari ide-ide cerita dari para sineas muda yang ada diseluruh Indonesia untuk dijadikan sebagai Viu Originals selanjutnya dengan proses produksi yang sangat profesional.

Pict by Media Buffet
Tidak hanya itu, Viu sebagai aplikasi layanan film berbasis online ini juga akan menayangkan serial tersebut dalam aplikasi mereka. Hal ini merupakan kesempatan besar bagi para sineas muda agar karyanya bisa dikenal dalam lingkup global. Karena saat ini Viu sudah ada diberbagai negara seperti Hongkong, Singapura, Malaysia, India, Filipina, Thailand, dan negara-negara di Timur Tengah.

Viu Pitching Forum 2019 memilih Yogyakarta sebagai kota pertama tempat diadakannya roadshow dan juga diskusi film yang bertempat di Jogja Film Academy pada Senin tanggal 14 Januari lalu. Pada kesempatan ini hadir 2 narasumber yaitu Myra Suraryo yang merupakan Senior Vice President Marketing Viu Indonesia dan Nia Dinata selaku juri dalam Viu Pitching Forum 2019.

Pict by Media Buffet


Menurut Myra, Yogyakarta merupakan salah satu kota yang punya banyak sineas muda dengan bakat dan potensi yang cukup besar. Setelah Yogyakarta, roadshow Viu Pitching Forum akan dilanjutkan ke beberapa kota besar lain di Indonesia seperti Medan, Balikpapan, Padang, Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya, Bali, dan Manado. Sementara itu pengumpulan ide akan dimulai pada 20 Januari sampai dengan 20 Februari 2019.  Semua ide cerita bisa dikirim melalui email ke pitchtoviu@vuclip.com dengan subjek nama peserta dan judul cerita. Setiap orang diperbolehkan untuk mengirim lebih dari satu ide cerita. Cerita yang orisinal dan menarik akan punya kesempatan yang lebih besar untuk terpilih menjadi pemenang.

Akan ada 10 peserta dengan ide terbaik yang akan dipilih dan diundang ke Jakarta untuk mengikuti workshop selama 6 hari bersama para sineas profesional Indonesia seperti Sammaria Simanjuntak (sutradara/produser), Andri Chung (sutradara/penulis naskah), Pritagita Arianegara (sutradara), Aline Jusria (editor). Selama workshop semua finalis akan diajari mulai dari cara membuat naskah sampai dengan proses produksi bahkan cara mendistribusikan hasil karya mereka.

Pitching atau presentasi ide cerita harus dilakukan oleh para finalis pada akhir workshop dihadapan para juri yang terdiri dari Myra Suraryo (Senior Vice President Marketing Viu Indonesia), Aileen Leong (Head of Content Viu Indonesia), Nia Dinata (sutradara/produser), Lucky Kuswandi (sutradara/penulis naskah), Melissa Karim (sutradara/penulis naskah), dan juri Institut Kesenian Jakarta.

Menurut Nia Dinata saat ini terjadi sedikit perubahan perilaku terutama pada generasi muda saat akan menonton film. Banyak diantara mereka yang sekarang lebih memilih untuk menonton film melalui laptop dan gawai karena lebih praktis dan bisa dilakukan dimana saja. Karena alasan itulah Viu hadir sebagai salah satu jembatan bagi sineas muda untuk mengembangkan karyanya dan bisa ditonton oleh banyak orang.

December 4, 2018

,
Awalnya teras kaca ini dibangun sebagai salah satu fasilitas  villa pribadi yang rencanya akan dibangun di Pantai Nguluram Namun karena kekuatan media sosial terutama Instagram, tempat ini akhirnya banyak dikenal orang dan akhirnya dibuka untuk umum. Teras Kaca Pantai Nguluran terletak di Desa Saptosari, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul dan hanya berjarak kurang lebih 300 meter dari Pantai Gesing.



Walaupun namanya Pantai Nguluran, jangan bayangkan kalau di sini kita bisa bermain pasir dan ombak. Karena tempat ini lokasinya berada di atas sebuah tebing tinggi yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Jadi sejauh mata memandang, kita akan disuguhi pemandangan birunya air laut yang cukup tenang dengan sedikit riak ombak di bawah tebing. 



Untuk yang suka berfoto ala model untuk mempercantik feed Instagram, tempat ini mungkin sangat menyenangkan dan wajib untuk dikunjungi kalau kebetulan sedang berada di Gunungkidul. Tapi untuk yang benar-benar ingin menikmati suasana pantai, sebaiknya ke pantai lain yang ada disekitarnya.



Yang paling rame dan diminati banyak orang  di sini tentu saja adalah teras kacanya yang berada pada ketinggian sekitar 30 meter dari permukaan air laut. Dari atas kita bisa melihat langsung ke dasar laut. Spot yang terbaru adalah glass boat, mirip dengan teras kaca namun dengan bentuk yang menyerupai kapal lengkap dengan meja dan kursi untuk foto ala-ala dipinggir pantai.




Tiket masuk ke Teras Kaca adalah Rp5.000/orang. Itu baru tiket masuknya saja ya. Untuk bisa foto dibeberapa spot yang ada harus bayar lagi dengan harga yang bermacam-macam. Mulai dari Rp10.000 sampai Rp30.000. Setiap orang hanya diberikan waktu selama 2 menit untuk mengambil foto karena biasanya antrian cukup panjang. 





December 2, 2018

,
Selain berkunjung ke tempat wisatanya, yang wajib dilakukan juga saat berkunjung ke satu kota tentu saja adalah mencicipi makanan khasnya. Walaupun mungkin bisa dijumpai disekitar tempat tinggal kita, tapi menikmati kuliner ditempat aslinya pasti punya sensasi tersendiri. Apalagi kalau ngomongin masalah rasa, pasti lebih otentik.

Jogja itu tidak hanya punya banyak tempat wisata yang menarik saja, kota budaya ini juga punya banyak sekali kuliner khas yang wajib untuk dicicipi. Mulai dari makanan berat sampai jajanan khas yang konon dahulu merupakan salah satu camilan favorit Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Berikut ini adalah daftar 10 kuliner khas Jogja yang wajib dicicipi:

1. Gudeg Pawon

Jogja sangat identik dengan makanan yang satu ini. Hampir disetiap sudut kota bahkan sampai masuk kampung sekalipun kita bisa dengan mudah menemukan penjual makanan yang terbuat daru nangka muda ini. Gudeg bisa dijadikan sebagai menu sarapan, makan siang, bahkan makan malam sekalipun. Kelezatan gudeg berasal dari perpaduan rasa manis daging nangkanya dan rasa pedas dari smbal krecek.

Antrian Gudeg Pawon
Dari sekian banyak penjual gudeg yang ada di Jogja, yang paling unik adalah Gudeg Pawon. Di sini pembeli bisa melihat langsung proses memasak nasi dan gudegnya langsung di pawon (dapur). Sensasi mengantri dan merasakan sedikit hawa hangat dari kayu bakar yang membara tidak bisa didapatkan ditempat lain. Warung yang terletak di Jalan Janturan UH/IV No.36 Umbulharjo, Kota Yogyakarta ini buka setiap hari mulai pukul 22.00 dan biasanya habis hanya dalam beberapa jam saja. Bahkan sebelum warungnya buka, sudah banyak orang yang mengantri.

2. Gudeg Manggar Bu Dullah

Banyak yang belum tahu bahwa konon awalnya dulu gudeg pertama kali justru dibuat dengan menggunakan kembang kelapa atau manggar. Namun karena bahan bakunya yang lebih sulit didapatkan, akhirnya gudeg nangka lah yang justru yang semakin banyak dikenal orang. Saat ini hanya ada beberapa penjual gudeg manggar yang masih bertahan terutama di daerah Bantul. Salah satunya adalah Bu Dullah.

Gudeg Manggar Bu Dullah


Bu Dullah awalnya hanya membuat gudeg manggar sebagai hantaran untuk menantu dan besannya yang berada di luar kota. Namun karena banyak yang mengatakan kalau gudegnya enak, beliau mulai membuka warung di rumahnya yang berada di Jebugan, Serayu, Bantul sejak 30 tahunan yang lalu. Gudeg yang terbuat dari manggar punya tekstur yang lebih kasar namun dengan rasa yang lebih gurih.

3. Mie Lethek Mbak Lilis

Secara penampilan, kuliner yang satu ini memang kurang menarik karena warnanya mienya yang kusam. Lethek dalam bahasa Indonesia artinya memang kotor atau kusam. Tapi dibalik warnanya yang kurang menarik tersebut ada kelezatan dan asupan gizi yang baik untuk kesehatan tubuh, terutama bagi yang sedang menjalankan diet sebagai pengganti nasi karena kadungan glikemiknya lebih rendah. Mie lethek berbahan dasar gaplek atau singkong kering dan tepung tapioka yang diproses secara tradisional dengan tenaga manusia dan bantuan sapi saat penggilingan bahan-bahannya. Mie lethek juga tidak menggunakan bahan pengawet sama sekali. 

Mie Lethek Mbak Lilis

Mie lethek merupakan makanan khas dari Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Namun sekarang sudah tidak perlu jauh-jauh ke Srandakan lagi karena ditengah kota pun ada warung mie lethek yaitu Mie Lethek Mbak Lilis yang lokasinya di Jalan Sukonandi 12 tidak terlalu jauh dari Stadion Mandala Krida.

4. Mides Mbak Anik

Mides merupakan singkatan bakmi pedes. Buat yang suka makanan pedas, mides ini wajib dicoba. Mides merupakan makanan khas di daerah Pundong, Bantul dan sekitar. Bahannya sama seperti mie lethek yaitu dari singkong tapi mides punya bentuk yang mirip kwetiauw.


Mides Mbak Anik


Mides dimasak dengan beberapa bumbu dan bahan tambahan lain seperti ebi yang membuat aroma dan rasanya cukup khas. Ada 2 pilihan, mides godog dan mides goreng. 
Mides disajikan dengan tambahan mentimun dan kol mentah. Salah satu pelopor yang menjual mides adalah Mides Mbak Anik yang berada di Desa Patalan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul. Warung ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu.


5. Jadah Tempe Mbah Carik

Kaliurang menjadi salah satu tempat plesiran bagi keluarga Keraton Yogyakarta. Pada waktu itu Sri Sultan Hamengkubuwono IX tidak sengaja menemukan penjual jadah tempe yang ada disekitar Kaliurang. Karena penasaran beliau mencoba dan ternyata sangat menyukai. Sejak itu beliau sering mengutus abdi dalem untuk membeli jadah tempe di Kaliurang  dan membawanya ke Keraton.

Jadah Tempe Mbah Carik


Banyak yang menyebut jadah tempe sebagai burger-nya Jogja karena cara makannya yang harus ditumpuk terlebih dahulu. Jadah  tempe terdiri dari tempe bacem dan jadah beras ketan. Perpaduan rasanya antara gurih dan manis. Kalau ke Kaliurang, jangan lupa cicipi Jadah Tempe Mbah Carik ini. 

6. Rujak Es Krim Pak Paino

Pernah coba makan rujak yang dikasih tambahan es krim? Cuma ada di Jogja seperti. Kalau baru jalan-jalan dan belajar sejarah di Puro Pakualaman, jangan lupa untuk mencicipi rujak es krim. Ada beberapa pedagang rujak es krim yang ada diseputar Pakualaman. Namun pionirnya adalah Rujak Es Krim Pak Paino yang berada di Jalan Harjowinatan persis berada di pertigaan. Pak Paino sudah mulai berjualan es krim sejak tahun 1990-an. 

Rujak Es Krim Pak Paino


Rujak es krim ini sangat cocok disantap pada siang hari saat cuaca sedang terik-teriknya. Rasa asam, manis, dan pedas yang berasal dari rujak berpadu sempurna dengan es krim atau es puter yang dingin.


7. Sate Klatak Pak Bari

Sate kambing khas dari Imogiri, Bantul ini menjadi sangat terkenal karena pernah menjadi lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Menikmati sate ini bisa membawa kita dalam romansa yang pernah dirasakan juga oleh Rangga dan Cinta. Lokasi Sate Klatak Pak Bari ini berada di dalam Pasar Wonokromo, Pleret, Bantul.

Sate Klatak Pak Bari


Sate klatak ini cukup unik. Tidak cuma karena bumbu yang digunakan, tetapi juga tusuk sate yang digunakan saat membakar. Jika biasanya tusuk sate dibuat dari bambu, tusuk sate klathak menggunakan jeruji besi roda sepeda motor. Oleh karena itu ukuran sate klatak cukup besar jika dibandingkan dengan sate pada umumnya. Sementara untuk bumbu, sate klatak menggunakan bumbu yang sangat sederhana. Hanya garam dan tambahan bawang merah saja. Tapi Jangan salah, rasa sate ini cukup nikmat di lidah.


8. Thiwul Ayu Mbok Sum

Jenis tanah yang berkapur di wilayah Kabupaten Gunungkidul dan sebagian daerah di Kabupaten Bantul membuat penduduknya kesulitan untuk menanam padi. Sebagai penggantinya penduduk kemudian menanam singkong yang relatif lebih mudah tumbuh dan tidak memerlukan banyak air. Oleh karena itu olahan makanan yang terbuat dari singkong menjadi makanan pokok, salah satunya adalah thiwul.

Thiwul Ayu Mbok Sum


Thiwul yang dulu selalu identik dengan makanan kampung sekarang sudah menjadi makanan kekinian dan diminati banyak orang. Salah satunya adalah dengan membuat berbagai varian rasa seperti yang ada di Thiwul Ayu Mbok Sum Mangunan ini. Selain rasa asli, di sini kita bisa mencicipi thiwul dengan rasa cokelat, vanila, atau keju. Buat yang penasaran rasa thiwul seperti apa, bisa mampir ke Thiwul Ayu Mbok Sum sekalian jalan-jalan ke Kebun Buah dan Hutan Pinus Mangunan.

9. Mangut Lele Mbah Marto

Sebagian besar dari kita mungkin banyak yang merasa jijik dengan hewan yang satu ini. Tapi pandangan ini pasti akan berubah setelah mencicipi Mangut Lele Mbah Marto yang sudah melegenda sejak tahun 1970-an ini. Dengan bumbu rahasianya, Mbah Marto menyulap lele menjadi makanan yang lezat.


Mangut Lele Mbah Marto


Yang unik, saat berada di sini kita seperti sedang berada di rumah simbah sendiri. Semua pembeli harus masuk ke dapur untuk mengambil makanan yang ingin dinikmati. Karena selain mangut lele masih ada beberapa menu lain seperti gudeg. Dapurnya pun sangat khas rumah-rumah kampung jaman dulu yang masih menggunakan kayu bakar sebagai sumber api. Mangut Lele Mbah Marto terletak tidak jauh dari Kampus ISI Yogyakarta tepatnya di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul.

10. Sate Ratu

Sate dengan bumbu kecap atau bumbu kacang sepertinya sudah biasa ya. Bagaimana kalau coba cicipi kelezatan sate dengan bumbu merah di Sate Ratu ini. Bumbu yang digunakan di Sate Ratu adalah bumbu racikan cabe merah yang terinspirasi dari sate yang ada di Lombok tanpa taburan bumbu macam-macam. Daging ayam dalam setiap tusuknya cukup besar namun tetap empuk.


Sate merah


Walaupun masih terbilang baru, tapi kelezatan Sate Ratu sudah dicicipi orang dari 67 negara. Penasaran seperti apa kelezatan sate yang sangat terkenal dikalangan para bule ini? Langsung saja ke Jogja Paradise Foodcourt yang ada di Jalan Magelang tepat di depan The Rich Hotel Yogyakarta.

December 1, 2018

,

Kalau dengar kata lumpia, pasti yang terbersit pertama kali tentu saja adalah Semarang. Makanan olahan peranakan Cina dan Jawa ini memang sudah lekat dengan Semarang. Tapi jangan salah, di Jogja juga ada satu penjual lumpia yang setiap hari selalu rame diburu pembeli. Tak hanya untuk dinikmati di tempat, tetapi juga dijadikan alternatif oleh-oleh atau cemilan selama perjalanan pulang dari Jogja. Namanya adalah Lumpia Samijaya atau banyak orang mengenalnya dengan nama Lumpia Mutiara.



Nama Samijaya diambil dari nama sebuah toko yang terasnya dijadikan tempat berjualan lumpia sejak 40 tahunan yang lalu. Nah Toko Samijaya ini letaknya tepat di depan Hotel Mutiara di kawasan Malioboro. Oleh karena itu banyak yang menjadikan Hotel Mutiara sebagai patokan saat akan mencari lumpia ini. Jadilah banyak orang yang mengenalnya dengan nama Lumpia Mutiara.

Lumpia Samijaya dijajakan dengan menggunakan gerobak sederhana seperti pedagang kaki umumnya yang ada di Malioboro. Ada beberapa kursi plastik yang disediakan untuk para pembeli yang ingin langsung menikmati langsung di sini. Jangan takut kelewatan, karena setiap pembeli dicatat nama dan pesanannya sesuai urutan. Kalau pesanan kita sudah matang, nama kita akan dipanggil beberapa kali.



Isian Lumpia Samijaya ini berbeda dengan lumpia yang di Semarang. Kalau biasanya isian lumpia menggunakan rebung, Lumpia Samijaya menggunakan irisan bengkoang yang dicampur dengan tauge, daging ayam, dan wortel. Khusus untuk lumpia yang spesial ditambah dengan telur puyuh. Semua bahan isian tersebut sudah masak terlebih dahulu dengan menggunakan bumbu rahasia. Kulit lumpianya pun dibuat sendiri, jadi rasanya cukup spesial, ga sama dengan lumpia ditempat lain.



Satu lagi yang spesial dari Lumpia Samijaya ini, yaitu parutan bawang putih yang ditaruh diatas lumpia yang sudah digoreng sebagai pelengkap. Harga Lumpia Samijaya untuk yang biasa adalah Rp4.500, sementara untuk yang spesial adalah Rp5.000.



Jadi kalau jalan-jalan ke Malioboro, jangan lupa cicipi jajanan yang satu ini.



November 28, 2018

,



Teknologi saat ini memang sangat mempermudah kehidupan sehari-hari manusia. Mulai dari urusan yang ringan seperti membeli makanan sampai dengan membayar listrik. Dahulu jika kita ingin membeli makanan, kita harus pergi sendiri menuju warung yang akan kita tuju. Bukan hanya waktu, kita juga butuh banyak tenaga untuk sekedar melakukannya. Tapi sekarang cukup dengan gawai yang kita punya dan duduk santai di rumah, kita bisa membeli makanan yang kita inginkan bahkan bisa sekalian diantar ke rumah. Lebih praktis bukan?

Teknologi kini hampir menjangkau semua aspek kehidupan, termasuk jasa pengiriman paket. Untuk yang punya bisnis online shop, pasti sudah tidak asing lagi dengan kegiatan kirim paket ke pelanggan. Bisa dibilang perusahaan ekspedisi adalah salah satu ujung tombak bagi banyak online shop. Kini dengan hadirnya Paxel, kirim paket dan logistik pun lebih mudah.


Untuk yang belum tahu, Paxel merupakan perusahaan startup dibidang ekspedisi pengiriman barang yang hadir di Indonesia pada pertengahan tahun 2018 ini. Dengan motto "Antarkan Kebaikan", Paxel menjadi pelopor aplikasi berbasis pengiriman barang pertama di Indonesia dengan layanan same day service. Barang yang dikirim hari ini, bakal nyampe juga hari ini dengan garansi maksimal 8 jam sampai  jika dikirim sebelum jam 3 sore. Bahkan antar kota sekalipun khusus untuk wilayah yang sudah tersedia layanan Paxel seperti Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, dan menyusul beberapa kota besar lain yang ada di Indonesia. Untuk yang punya bisnis makanan seperti frozen food, jasa pengiriman seperti ini yang dicari. Karena makanan tidak terlalu lama berada dalam perjalanan.



Kalau biasanya kita direpotkan dengan urusan kiriman barang karena harus pergi ke agen terlebih dahulu, dengan Paxel kita cukup anteng di rumah karena Happiness Hero yang akan menjemput  barang ke tempat tinggal kita. Waktunya pun kita bisa tentukan sendiri melalui aplikasi yang sekarang sudah bisa diunduh melalui Appstore dan Playstore. Begitu juga untuk penerima, waktu delivery barang juga bisa ditentukan sesuai permintaan.

Paxel menyediakan tempat yang disebut dengan loker untuk para penggunanya yang mungkin sering tidak ada di rumah dan takut terlewatkan saat Hero datang mengantarkan paket. Dengan loker ini paket akan disimpan dan diambil kapan saja oleh penerima.

Kelebihan lain dari Paxel adalah tarif pengirimannya yang flat. Pengiriman tidak dihitung berdasarkan jarak atau berat barang, tetapi hanya dikelompokkan menjadi 3 jenis ukuran yaitu small, medium, dan large serta 1 ukuran custom. Berat maksimal tiap ukuran adalah 10 KG. Tarif ini tentu saja akan membuat biaya pengiriman lebih murah. Biaya pengiriman bisa dibayar dengan menggunakan saldo Paxel atau uang tunai.



Cara penggunaan aplikasi ini cukup mudah. Jika sudah terbiasa menggunakan aplikasi ojek online, pasti akan langsung paham. Cukup dengan memasukan alamat kita, alamat pengiriman berdasarkan peta, lalu jenis ukuran barang yang akan dikirim. Setelah itu tinggal melengkapi data lain seperti nama pengirim, no telepon, alamat email serta jam berapa barang bisa diambil di rumah. 

Melalui aplikasi Paxel kita juga bisa memantau progress pengiriman barang kita sudah sampai mana. Begitu juga pada saat barang sudah sampai lokasi pengiriman kita bisa melihat siapa yang foto siapa yang menerima barang tersebut. Lebih aman kan menggunakan Paxel, jadi tidak ada ketakutan barang salah kirim ke tempat lain.



Untuk yang ingin mencoba antarkan kebaikan dengan paxel, segera unduh aplikasinya dan nikmati kemudahannya. Jangan lupa gunakan kode referal "padmasedan" untuk mendapatkan saldo gratis sebesar Rp100.000.

November 10, 2018

,
Dalam rangka merayakan ulang tahun saya yang kesekian tanggal 9 November 2018 lalu. Saya memutuskan untuk rehat sejenak dari pekerjaan dan melakukan liburan tipis-tipis ke Kledung, Temanggung berbekal voucher hotel hadiah lomba punya teman yang hampir habis masa berlakunya. Ga terlalu jauh, hanya sekitar 2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor dari Jogja. Niatnya memang hanya ingin sedikit menjauh dari Jogja dan menikmati waktu di hotel saja. Kalau dilihat dari internet, suasana hotelnya cukup tenang.


Sengaja memulai perjalan sekitar jam 5.00 pagi dengan pertimbangan supaya jalanan belum terlalu ramai dan bisa menikmati pemandangan. Tapi sayang sekali karena semalaman Jogja diguyur hujan dengan cukup deras, tidak ada pemandangan cantik yang bisa dilihat selama perjalan. Tidak nampak Merapi dan Merbabu yang selalu muncul di pagi hari dan menyambut siapa saja yang akan meninggalkan Jogja. Begitu juga si kembar Sindoro dan Sumbing yang sama sekali tidak terlihat karena tertutup awan.



Walaupun sangat kecil kemungkinannya, saya tetap berharap kalau matahari tiba-tiba muncul dan bersinar pada saat tiba di Embung Kledung sekitar pukul 07.00. Karena daya tarik utama dari embung ini adalah latar belakang Gunung Sindoro dan Sumbing yang tampak berseberangan. Tapi sayangnya harapan tinggal harapan, matahari tak kunjung muncul sedangkan kabut semakin tebal. Akhirnya diputuskan untuk pergi ke Dieng Kledung Pass Hotel yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari embung. Siapa tau boleh masuk kamar awal buat istirahat. Karena sebenarnya mata masih cukup ngantuk karena semalam kurang tidur.



Tapi karena hari itu ada 3 bus rombongan yang menginap di Dieng Kledung Pass Hotel. Saya baru bisa masuk kamar sekitar pukul 12.00 siang menunggu tamu sebelumnya keluar. Sambil nungguin pukul 12.00, coba lihat-lihat Google Map ada wisata atau tempat yang menarik apalagi disekitar hotel. Karena niatnya memang ga pengen jauh-jauh dari hotel. Akhirnya diputuskan lah untuk mengunjungi Goa Maria Taroanggro yang jaraknya hanya sekitar 2 km saja dari hotel.
Goa Maria Taroanggro ini boleh dibilang tempat wisata ziarah umat Katholik yang masih cukup baru. Bukan hanya umat Katholik saja yang diperbolehkan masuk, semua orang bisa masuk ke dalam kawasan ini. Selain ada gua Maria, di dalamnya juga terdapat ruang diorasi dan juga patung Yesus yang cukup besar.

Selesai berkeliling Gua Maria Taroanggro, ternyata waktu masih pukul 11.00. Rasanya terlalu awal kalau harus kembali ke hotel. Yang pasti kamar pasti juga belum siap. Ngopi jadi salah satu solusi untuk menghabiskan waktu. Kebetulan di area parkir ada cafe sederhana yang bernama nDeso Coffee. Saya bukan pecinta kopi, tapi karena tidak ada tempat lain akhirnya mampir ke sini menunggu pukul 12.00. Kopi yang ada di sini berasal dari perkebunan yang berada di lereng Sindoro dan Sumbing.



Waktu yang ditunggu tiba juga. Tepat pukul 12.00 akhirnya bisa masuk kamar hotel juga. Dieng Kledung Pass Hotel ini beralamat di Jalan Raya Parakan Wonosobo, Kertek, Wonosobo. Lokasinya persis diantara gapura batas kabupaten Temanggung dan Wonosobo.



Dieng Kledung Pass Hotel ini sepertinya satu-satunya hotel yang cukup besar yang berada di jalur menuju ke Wonosobo dari Temanggung. Jika dilihat dari luar, hotel ini hanya tampak seperti hotel lawas yang membosankan. Terdiri dari 3 lantai dengan model bangunan yang kuno.
Memasuki kamar hotel, kita akan disambut dengan perabotan yang juga tidak kalah lawasnya. Mulai dari pintu sampai dengan lemari dan meja lengkap dengan TV tabungnya. Setiap kamar dilengkapi dengan teras dan balkon yang bisa digunakan untuk bersantai.



Sempat bingung karena tidak melihat pintu kamar mandi? Dalam hati mikir jangan-jangan kamar mandinya barengan kaya kos-kosan. Tapi ternyata setelah diulik-ulik, pintu kamar mandinya menyatu dengan lemari baju. Jadi satu pintu lemari tersebut adalah pintu rahasia menuju ke kamar mandi. Berasa kaya nonton film jaman dahulu ga sih? Kamar mandinya cukup besar karena ada bathtub juga. Yang penting adalah ada air hangatnya. Udara dilereng Sindoro dan Sumbing setiap harinya selalu berada dibawah 20 derajat Celcius. Jadi mandi dengan air hangat itu penting sekali. Apalagi sambil berendam di bathtub.



Ga perlu nanya ada AC apa enggak. Tanpa AC pun suhu udara di sini udah cukup bikin mengigil. Apalagi buat orang yang biasa tinggal di kota. Walaupun ga bisa dibilang cukup empuk, kasur di Dieng Kledung Pass Hotel ini masih cukup nyaman untuk dibuat tidur. Karena yang paling penting adalah selimut tebal untuk menghalau udara dingin saat malam hari.



Kelebihan dari Dieng Kledung Pass Hotel ini tentu saja adalah pemandangannya yang luar biasa. Di depan hotel bisa lihat langsung Gunung Sumbing, sementara dibelakangnya ada Gunung Sindoro. Dengan catatan kalau cuaca sedang cerah dan ga tertutup kabut ya. Jadi kalau bisa memilih, pilih kamar yang berada di lantai 2 atau 3 biar pemandangan kearah kedua gunung tersebut lebih leluasa. Kalau kamar yang berada di lantai paling bawah pemandangan kearah Sindoro dan Sumbing agak sedikit tertutup.



Beruntunglah pagi hari lalu Sindoro mau menampakan diri. Dari dalam kamar pun bisa terlihat dengan sangat jelas. Rasanya tenang dan adem banget pikiran bisa lihat pemandangan secantik itu langsung dari kamar. Coba kalau bisa lihat setiap hari. Pasti stress berkurang dan hidup bisa lebih menyenangkan.

Sebenarnya Dieng Kledung Pass Hotel ini punya kolam renang yang berada di depan hotel. Tapi sayangnya, waktu kemarin di sana kolamnya tampak tidak terisi air. Mungkin sedang dikuras atau dalam perbaikan. Tapi walaupun ada airnya sekalipun ga akan berenang juga sih. Mengingat udara yang cukup dingin. Kecuali kalau isinya air hangat. :P




Dibelakang hotel terdapat taman yang menyatu dengan perkebunan penduduk. Ada juga gazebo atau pendopo yang biasa digunakan untuk acara-acara pesta seperti pernikahan. Sepertinya seru juga kalau buat pelaminan dengan latar belakang Gunung Sindoro.



Di depan hotel terdapat restoran yang digunakan untuk tempat sarapan dan juga masyarakat umum yang memang sedang melintas disekitar Kledung. Menu sarapannya memang tidak banyak, hanya ada pilihan nasi soto atau nasi rawon dengan tambahan minum teh anget. Selain kedua makanan tersebut dikenakan biaya seperti tamu umum. Rasa rawonnya memang tidak bisa dibilang enak, tapi masih bisa diterima oleh lidah dan perut.

Kalau ada kesempatan lagi, masih pengen menikmati waktu di Dieng Kledung Pass Hotel ini. Yang penting bukan pada saat musim hujan seperti sekarang ini supaya bisa dapat pemandangan yang lebih cantik.



November 6, 2018

,
Selain rasa makanan yang enak, alasan lain yang menjadi penentu saat orang memilih restoran atau tempat makanan tentu saja adalah suasananya. Jika suasananya cukup menyenangkan,pasti orang akan betah berlama-lama atau bahkan sering-sering berkunjung ke tempat tersebut. Suasana pedesaan yang adem dengan persawahan hijau sepertinya saat ini mulai diburu banyak orang. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya restoran yang lokasinya berada ditengah perkampungan dan jauh dari pusat kota. Untuk orang kota yang sudah terbiasa dengan hiruk pikuk lalu lintas jalanan yang macet, tempat seperti ini bisa menjadi tempat untuk sejenak bersantai dan menikmati suasana yang masih alami.



Tidak hanya Sleman saja yang  punya tempat-tempat makanan dengan nuansa pedesaan. Bantul juga ternyata punya restoran dengan nuansa pedesaan yang cukup khas dan tidak kalah menarik. Salah satunya adalah Warung Omah Sawah Tembi.



Warung Omah Sawa Tembi terletak di Dukuh Tembi, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul yang dapat ditempuh kurang lebih selama 15 menit perjalanan dari Malioboro dengan menggunakan kendaraan pribadi. Warung Omah Sawah Tembi cukup mudah ditemukan karena letaknya berada dipinggir jalan raya.



Jika dilihat dari luar, Warung Omah Sawah Tembi memang hanya tampak seperti sebuah warung kecil biasa. Namun jika sudah masuk ke dalam, baru lah kita bisa menikmati suasananya. Sebuah pendopo yang sangat khas Jawa tampak dikelilingi persawahan yang hijau. Pendopo dibangun tanpa sekat sama sekali sehingga kita bisa melihat langsung kearah persawahan yang ditengahnya terdapat jalan kampung. Pada sore hari kita bisa melihat aktivitas penduduk yang hendak pulang menuju ke rumah dari sawah atau anak-anak yang bersepeda sepulang dari TPQ. 





Beberapa menu andalan di Warung Omah Sawah Tembi antara lain nasi goreng hijau,nila bakar, ayam bakar, nila goreng, ayam goreng, mangut lele, tumis kembang pepaya, tumis daun pepaya, tumis genjer, dan lodeh lombok ijo. Selain itu tersedia juga menu khusus untuk rombongan. Untuk menu rombongan maksimal harus memesan satu hari sebelumnya.



Waktu paling tepat untuk datang ke Warung Omah Sawah Tembi adalah menjelang sore hari. Selain  menikmati pemandangan persawahan yang adem, kita juga akan disuguhi dengan penampakan matahari terbenam yang cantik. Ditambah lagi dengan suara kodok yang bersahutan yang membuat suasana menjadi lebih  syahdu.

Follow me @novaaristianto