Mau Cari Apa?

,
Tradisi pulang kampung atau mudik adalah tradisi yang biasa dilakukan orang-orang di Indonesia terutama yang tinggal di kota besar. Mereka akan pulang ke kampung halamannya pada saat menjelang hari raya seperti Idul Fitri. 



Tradisi mudik menjadi momen ntuk bersilaturahmi dengan keluarga besar yang jarang sekali bertemu. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi yang telah berlangsung selama 2 tahun terakhir ini. Momen berkumpul dengan keluarga besar di kampung sudah pasti dirindukan oleh banyak orang.

Kalau kamu mau mudik dengan menggunaka bus umum, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar perjalanan tetap nyaman.


Hindari makan makanan yang pedas

Sebelum melakukan perjalanan mudik, ada baiknya untuk menghindari menyantap makanan yang terlalu pedas. Makanan yang pedas adalah salah satu pemicu sakit perut dan diare.

Melakukan perjalanan jauh dalam keadaan sakit perut sangat tidak mengenakan, apalagi kalau sampai terserang diare. Tidak semua bus mempunyai fasilitas toilet, terutama bus-bus jarak menengah. 

Jangan membawa uang tunai terlalu banyak

Hal kedua yang harus diperhatikan saat mudik menggunakan bus umum adalah jangan membawa uang tunai dalam jumlah yang banyak. Bawalah uang secukupnya untuk membeli tiket atau makan selama perjalanan saja. Musim mudik lebaran banyak sekali muncul modus kejahatan,salah satunya adalah hipnotis.

Selain jangan membawa uang dalam jumlah yang banyak, hindari juga untuk memamerkan barang berharga kita. Karena kejahatan bisa muncul bukan hanya karena ada niat tetapi juga karena ada kesempatan.


Bawa makanan sendiri

Perjalanan mudik mungkin saja bisa menjadi salah satu perjalanan yang tidak bisa tertebak. Karena bisa saja bus yang kita tumpangi bisa saja terjebak disuatu dalam waktu yang lama dan tidak bisa diprediksi. Sementara itu ruumah makan masih jauh. 

Untuk menghindari hal tersebut, ada baiknya
untuk membawa makanan dan minuman sendiri saat akan mudik.


Bawa buku bacaan

Buku bacaan favorit bisa menjadi salah satu alat pembunuh kebosanan yang diakibatkan oleh kemacetan selama perjalanan mudik. Tidak perlu membawa banyak buku, cukup satu atau dua buku saja yang paling disukai. Membaca buku juga akan lebih menyenangkan bila diselingi dengan mendengarkan musik.


Dan yang terakhir yang harus dilakukan adalah tetap mengawasi barang bawaan kita agar tidak berpindah ke tangan orang lain.


Selamat bersiap-siap mudik
,
Sejak pertama kali tinggal di Jogja beberapa tahun yang lalu, Solo selalu menjadi tempat singgah sementara kalau sedang bosan dengan suasana di Jogja. Letaknya yang tidak jauh dan akses angkutan yang mudah tentu saja jadi salah satu alasan utama untuk selalu berkunjung ke Solo. Dulu bahkan bus jurusan Jogja Solo bisa ditemui selama 24 jam.


Tapi saya lebih memilih naik kereta api setiap pergi ke Solo. Dari jaman KRD Sriwedari dan Prameks sampai sekarang sudah digantikan oleh KRL Jogja Solo, saya masih tetap setia menggunakan kereta. Karena naik kereta itu lebih enak. Selain jadwalnya yang lebih teratur, anti macet juga. Apalagi stasiunnya berada di tengah kota. 


KRL Jogja Solo tiba di Stasiun Balapan

KRL Jogja Solo mulai beroperasi kurang lebih setahun lalu, persis di masa pandemi Covid 19. Untuk yang sudah biasa naik Prameks pasti merasakan banyak perbedaan dan peningkatan kualitas. Terutama pada masalah tiketing dan penambahan jumlah stasiun pemberhentian.


Untuk yang belum pernah naik KRL Jogja Solo, saya akan bagikan pengalaman saya naik kebangaan warga Jogja dan Solo ini. Sebagai informasi KRL di Indonesia saat ini baru beroperasi di Jabodetabek dan Jogja-Solo saja.

KRL Jogja Solo melintasi Jembatan Kewek 

Dulu untuk mendapatkan tiket Prameks kita harus antri ke loket stasiun beberapa jam sebelum pemberangkatan, itupun sering tidak kebagian tiket karena banyaknya antrian. Kalau naik KRL Jogja Solo tidak perlu antri lagi karena kita bisa menggunakan e-money (uang elektronik) dari beberapa bank seperti Mandiri, BNI, BCA, dan bank lainnya.


Selain itu kita juga bisa membeli KMT (Kartu Multi Trip) yang bisa dibeli di loket stasiun. Harganya Rp30.000 sudah termasuk saldo sebesar Rp20.000. KMT ini harus disimpan karena bisa digunakan seterusnya. Jika ingin melakukan perjalanan kembali dengan KRL Jogja Solo bisa ditambah saldonya lewat vending machine atau kasir loket. Alat pembayaran terakhir yang bisa digunakan untuk pembayaran KRL Jogja Solo adalah aplikasi Link Aja. Tarif KRL Jogja Solo saat ini adalah Rp8.000 berlaku untuk semua jurusan. 


Nah kalau sudah punya satu dari tiga pilihan alat pembayaran di atas kita bisa langsung menuju ke pintu masuk keberangkatan. Sebelum masuk kita harus tap kartu kita atau scan barcode di mesin check in. Kalau lampu mesin menyala hijau, artinya berhasil dan pintu akan terbuka otomatis. Kalau belum menyala hijau, mungkin kita belum meletakkan kartu diposisi yang tepat. Tapi tidak perlu khawatir karena ada petugas jaga dari KAI Commuter Line yang ramah dan siaga di pintu masuk untuk membantu penumpang.



Setelah masuk kita bisa duduk di ruang tunggu sampai KRL Jogja Solo yang akan kita naiki datang dan siap. Akan ada pengumuman menggunakan speaker kapan kita boleh masuk ke dalam kereta dan jalur berapa yang digunakan untuk pemberangkatan. Jadi sabar aja nunggu pemberitahuan tersebut. Karena biasanya KRL yang baru saja datang dari Solo akan terlebih dahulu dibersihkan.


Bagian dalam KRL Jogja Solo

KRL Jogja Solo tidak menggunakan sistem nomor kursi duduk. Kita bisa duduk dimana saja selama bangku tersebut kosong. Tapi perlu diperhatikan bahwa beberapa kursi diperuntukan untuk prioritas seperti lansia, ibu hamil, dan ibu yang membawa balita. Kursi prioritas biasa berada di dekat pintu masuk yang berukuran pendek. Di atas kursi tersebut dipasang tanda khusus.


Pintu masuk penumpang KRL Jogja Solo di Stasiun Balapan
Penumpang dilarang untuk duduk di lantai kereta karena bisa mengganggu aktivitas penumpang lain. Jika kita tidak kebagian tempat duduk, kita bisa menggunakan pegangang tangan yang berada di atas. Selain itu juga ada larangan untuk makan dan minum selama dalam perjalanan KRL Jogja Solo.


KRL Jogja Solo akan melewati 11 Stasiun.

1. Stasiun Yogyakarta
2. Stasiun Lempuyangan
3. Stasiun Maguwo
4. Stasiun Brambanan
5. Stasiun Srowot
6. Stasiun Klaten
7. Stasiun Ceper
8. Stasiun Delanggu
9. Stasiun Gawok
10. Stasiun Purwosari
11. Stasiun Solo Balapan


Perjalanan dari Jogja ke Solo menggunakan KRL ditempuh kurang lebih selama 68 menit. Perjalanan menggunakan KRL Jogja Solo lebih cepat dibandingkan saat naik Prameks. Lajunya pun lebih terasa nyaman dan tidak terdengar suara yang lebih berisik.

Setiap mendekati stasiun pemberhentian petugas akan selalu mengumumkan nama stasiunnya beberapa kali. Jadi kita tidak akan salah turun atau kelewatan. Ada beberapa stasiun yang yang peronnya cukup pendek sehingga penumpang harus maju ke arah 4 gerbong paling depan untuk bisa turun. Pengumuman tersebut juga bisa kita dengarkan sebelum kereta berhenti.


Sampai di stasiun akhir tujuan kita, jangan lupa siapkan kembali kartu kita. Tunggu sampai KRL benar-benar berhenti dan pintu terbuka. Setelah itu kita bisa langsung menuju ke pintu ke luar. Ada banyak petunjuk yang akan mengarahkan kita ke pintu ke luar. Atau kalau bingung kita bisa mengikuti arah penumpang lain. Setelah ketemu pintu keluar kita bisa tap kembali kartu dengan cara menempelnya di mesin. Setelah lampu hijau menyala kita bisa melangkah keluar dan selesai sudah perjalanan dengan KRL Jogja Solo ini. Mudah kan caranya?


Saya kebetulan turun di Stasiun Solo Balapan. Lumayan takjub dengan perubahan di sini. Terutama bagian yang digunakan untuk pemberhentian dan pemberangkatan KRL Jogja Solo yang sekarang sudah dipisahkan dengan pintu masuk penumpang kereta jarak jauh. Tampak sangat modern lengkap dengan lift dan ekskalator. Semoga stasiun lain juga segera diperbarui agar tampak lebih modern.








,

Untuk masalah kuliner, Jogja dan sekitarnya sepertinya tidak akan pernah kehabisan tempat. Selalu ada saja tempat nongkrong atau tempat makan baru yang menawarkan konsep yang menarik. Mulai dari yang berkonsep modern sampai yang berkonsep tradisional sekalipun. Mau jenis makanan apa saja? Bisa tinggal pilih mau makan apa.



Buat yang sedang berjalan-jalan ke Candi Prambanan atau Candi Plaosan, sepertinya tidak boleh melewatkan Wedang Kopi Prambanan begitu saja. Restauran yang baru buka sekitar setahunan yang lalu ini punya konsep yang cukup unik. Yaitu perpaduan antara Jawa klasik dan alam.


Rumah Joglo yang dikelilingi kebun jagung


Wedang Kopi Prambanan terletak di Jalan raya Klaten-Manisrenggo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Letaknya sangat dekat dengan Candi Plaosan yang dikenal sebagai candi kembar dengan kisah romantis dibalik pembuatannya. Lokasinya berada dipinggir jalan raya sehingga cukup mudah ditemukan dengan bantuan Google Map.



Sampai di parkiran Wedang Kopi Prambanan, kita akan disambut dengan sebuah bangunan rumah joglo yang sangat klasik lengkap dengan sebuah andong tanpa kuda yang menjadi hiasan di depannya. 


Di dalam joglo tersebut terdapat banyak kursi-kursi kayu dengan anyaman rotan yang sangat cocok dengan suasananya. Ditambah lagi dengan lantai tegelnya yang menjadikan Wedang Kopi Prambanan terlihat sangat klasik.




Masuk ke dalam, ternyata tidak hanya ada satu joglo. Dibagian dalam Wedang Kopi Prambanan masih ada 2 joglo lagi yang dipisahkan dengan area taman hijau yang cantik lengkap dengan kolam ikan dan air mancur.



Disekitar kolam terdapat dua buah sepeda jengki dan juga lesung. Untuk yang belum tau, lesung itu adalah alat yang dahulu digunakan untuk menumbuk padi menjadi beras dengan menggunakan kayu bulat panjang yang disebut alu. Kalau mau benar-benar merasakan nuansa tempo dulu, di Wedang Kopi Prambanan kita bisa meminjam baju tradisional Jawa secara gratis. Baju-baju tersebut tersedia di dalam lemari kayu yang berada disebrang meja kasir.



Yang unik ada 2  bekas kandang sapi yang diubah menjadi tempat untuk makan. Selain itu ada banyak kursi dan meja kayu yang berjajar rapi di sisi utara lengkap dengan pepohonan yang masih dipertahankan.



Kursi-kursi ini sangat cocok untuk bersantai kalau datang ke sini sore hari. 
Menikmati semilir angin sambil menanti pemandangan matahari terbenam. Wedang Kopi Prambanan dikelilingi oleh perkebunan jagung milik penduduk sekitar. Dari kejauhan kita juga bisa melihat perbukitan hijau.


Masakan rumahan yang nikmat






Sesuai dengan konsepnya, Wedang Kopi Prambanan menjual berbagai masakan rumahan tradisional dengan sistem prasmanan. Beberapa menu andalannya antara lain sayur asem, oseng soun, oseng daun pepaya, oseng bunga pepaya, ayam goreng, dan telur kremes. Ada 2 pilihan nasi yang bisa dipilih, yaitu nasi putih dan nasi merah.



Ada banyak pilihan minuman racikan kopi. Tapi karena saya bukan penggemar kopi, jadi saya lebih memilih minuman lain yang cukup tradisional yaitu wedang uwuh dan wedang jangkruk. Selain itu masih ada banyak minuman tradisional lagi yang menyegarkan tenggorokan. Sebagai tambahan ada camilan seperti mendoan, pisang goreng, dan singkong goreng.



Suasana yang asri menjadi semakin syahdu karena sepanjang hari Wedang Kopi Prambanan memutar lagu-lagu bossanova Jawa. Waktu paling tepat untuk berkunjung ke sini adalah pada sore hari. Jika cuaca sedang cerah, kita juga bisa menikmati sunset yang cantik.

,
Indonesia dikelilingi banyak sekali gunung. Beberapa diantaranya bahkan berupa gunung berapi yang masih aktif sampai sekarang. Pemandangan alam yang indah membuat banyak orang yang ingin mendaki ke puncaknya. Walaupun cukup mengurus banyak tenaga, tetapi ada rasa kebanggaan bisa melakukan hal tersebut.


Naik gunung pertama kali
Puncak Gunung Sindoro



Bagi kalian yang sedang berencana naik gunung untuk pertama kali, paling tidak ada 3 hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan agar pendakian pertama kamu bisa lebih lancar.


1. Olahraga rutin

Olahraga yang teratur sangat dianjurkan dilakukan beberapa hari atau bahkan minggu sebelum melakukan pendakian. Hal ini bertujuan untuk melatih badan kita. Olaharaga yang bisa dilakukan antara lain lari atau berenang. 

Jika rutin dilakukan niscaya akan membantu kita saat pendakian. Tubuh jadi tidak mudah lelah saat menyusuri jalur pendakian. Selain itu usahakan untuk selalu tidur cukup dan teratur agar badan terasa lebih bugar. 


2. Cari gambaran tentang gunung yang akan di daki

Sekarang ini banyak sekali pendaki yang mengabadikan pendakian mereka melalui chanel Youtube mereka. Dari sini lah kita bisa melihat sedikit gambaran tentang gunung yang akan kita daki. Seperti apa jalur yang harus dilewati dan ada berapa pos yang akan dilewati. 

Kita juga bisa melihat pemandangan apa saja yang akan kita jumpai di perjalanan atau kondisi puncak gunung. Pemandangan tersebut bisa menjadi penyemangat terutama para pendaki pemula untuk bisa sampai ke puncak. Selain pemandangan bagus tentu saja ada kebanggaan dan kepuasaan diri. Menaklukan ego dan kekuatan sendiri.


3. Persiapkan perlengkapan mendaki

Banyak pendaki pemula yang meremehkan hal ini. Mereka mendaki dengan menggunakan dan membawa peralatan seadanya. Padahal di gunung cuacanya bisa tiba-tiba berubah secara ekstrim.

Beberapa benda yang wajib dibawa antara lain tenda, sepatu safety, sleeping bag, jaket, senter, lampu penerang, peralatan memasak, bahan makanan, air minum dan obat-obatan ringan. Kalau kita tidak punya peralatan tersebut kita bisa menyewanya.

Usahakan pakai baju yang berbahan ringan atau parasut saat melakukan pendakian agar langkah lebih ringan dan baju lebih cepat kering saat terkena air.


Yang terakhir yang paling penting adalah berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing agar perjalanan kita dilancarkan tanpa suatu halangan apa pun. Bisa kembali turun dalam kondisi sehat walafiat dan bonus pemandangan yang cantik.

Untuk yang ingin mendaki pertama kali bisa bisa mencoba naik ke Gunung Prau dan Gunung Andong. Kedua gunung tersebut jalur pendakiannya masih cukup aman bagi pemula tapi pemandangan yang bisa kita lihat luar biasa cantik.
,

Jarak tempuh ke puncak yang cukup singkat, yaitu sekitar 2-3 jam saja membuat Gunung Prau menjadi idola bagi banyak pendaki pemula atau orang yang belum pernah naik gunung sama sekali. Ditambah lagi dengan pemandangan yang luar biasa cantik menjadikan Gunung Prau banyak dikunjungi orang setiap harinya.

Sindoro, Sumbing, Merapi, dan Merbabu tampak dari puncak Prau

Hari Senin (06-08-18) lalu adalah kali kedua saya melakukan pendakian di Gunung Prau setelah tahun lalu tepat di Hari Raya Iduladha berhasil menapaki gunung di kawasan Dieng yang mempunyai ketinggian 2.565 mdpl ini. 


Masih sama seperti tahun lalu, jalur yang digunakan adalah Jalur Patak Banteng. Alasannya tentu saja karena saya sudah pernah melewati jalur tersebut. Kali ini saya mendaki bersama 3 orang teman dari Jakarta dan Paris yang belum pernah naik ke Gunung Prau. 2 orang diantara mereka bahkan sama sekali belum pernah naik gunung.


Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng

Selain jalur pendakian via Patak Banteng, masih ada beberapa jalur pendakian lain yang umum digunakan untuk menuju puncak Gunung Prau seperti jalur Dieng, Kalilembu, Dwarawati, dan Wates.

Basecamp Patak Banteng lokasinya hanya beberapa ratus meter saja dari jalan raya. Tepatnya di Jalan Raya Wonosobo Dieng KM 24 Desa Patak Banteng, Kejajar, Wonosobo. Letaknya tidak terlalu jauh dari gapura yang ada tulisan "Kawasan Wisata Dieng Plateau".

Basecamp Patak Banteng


Basecamp Patak Banteng ini menjadi tempat awal sebelum memulai perjalanan menuju puncak Gunung Prau. Semua pendaki yang datang harus melapor terlebih dahulu kepada petugas. Untuk yang membawa kendaraan pribadi juga bisa menitipkan kendaraan atau helmnya sekaligus.



Ruangan di dalam basecamp cukup besar, biasa digunakan oleh para pendaki sebelum naik dan sesudah turun dari puncak untuk beristirahat sejenak. Selain itu basecamp ini juga dilengkapi dengan toilet yang bisa digunakan untuk mandi atau buang air. 


Di depan basecamp banyak warung yang menjual makanan atau minuman untuk mengisi perut. Untuk yang belum membawa peralatan mendaki, disekitar basecamp Patak Banteng ini juga ada tempat persewaan.


Jalur menuju puncak Gunung Prau

Perjalanan dari basecamp Patak Banteng menuju ke puncak Gunung Prau bisa ditempuh kurang lebih selama 2-3 jam dengan jalur yang terbilang mudah untuk pendaki pemula sekalipun. Mungkin untuk yang sudah biasa mendaki gunung perjalanan akan lebih cepat lagi.

Dari basecamp menuju ke Pos I Sikut Dewo ada 2 pilihan. Untuk yang mau menyimpan banyak energi, bisa menggunakan jasa ojek yang ada di depan basecamp. Untuk yang memilih jalan kaki, jalur pertama yang harus dilalui ada pemukiman warga melewati tangga "Ondo Sewu" yang menanjak cukup tinggi. 


Biasanya di jalur inilah kaki kita mulai melakukan penyesuaian. Dari yang biasa digunakan jalan santai, langsung digunakan untuk naik tanjakan. Setelah ujian pertama ini kita akan melewati perkebunan warga dilanjutkan dengan jalan berbatu atau makadam sampai dengan Pos I.



Perjalanan dari Pos I menuju ke Pos II jalurnya mulai berubah dari jalanan berbatu menuju jalan tanah yang seluruhnya berada ditengah ladang penduduk. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi dengan kebun-kebun kentang yang merupakan salah satu komoditas pertanian di Dieng. 


Dari kejauhan kita bisa melihat ladang-ladang petani yang berbentuk terasering. Cukup indah buat dipandang mata. Sepanjang rute menuju pos II Canggal Walangan ini terdapat banyak warung yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat. Warung-warung tersebut biasanya menjual semangka, pisang, gorengan, dan berbagai minuman. 


Sepotong semangka terasa sangat segar saat masuk ke dalam mulut yang sedang tersengal-sengal kehabisan nafas karena berjalan.



Tantangan terberat menuju ke puncak Gunung Prau adalah dari Pos II menuju ke Pos III Cacingan dilanjutkan sampai ke Plawangan. Kenapa? Karena sudah tidak ada lagi warung dan jalur yang harus dilalui cukup menantang. 


Jalanan tanah dan batuan yang menanjak cukup tinggi. Harus benar-benar berhati-hati melalui jalur tersebut. Dari jalur ini kita bisa melihat Telaga Warna dan Gunung Slamet yang tampak dari kejauhan.



Sunset cantik di Gunung Prau

Kita memang sudah merencanakan pendakian pagi hari supaya bisa istirahat dan menikmati sunset. Saya berangkat dari Jogja menggunakan sepeda motor sekitar jam 05.00 pagi dan sampai di Patak Banteng sekitar pukul 09.30 karena harus berhenti dulu di Pasar Garung untuk membeli beberapa bahan makanan yang belum ada.



Sementara teman-teman saya yang berangkat dari Jakarta sudah sampai di Patak Banteng sejak subuh. Lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Mulai perjalanan kurang lebih pukul 10.00 dan sampai di puncak pada pukul 13.15. Belum terlalu banyak yang sampai puncak saat itu.



Setelah berkeliling, akhirnya kita memutuskan memilih tempat sedikit diatas bukit untuk mendirikan tenda. Selain tempatnya yang cukup lapang, tempat yang kita pilih tepat persis dihadapan gunung-gunung lain. Jadi seandainya besok pagi membuka tenda, kita bisa melihat langsung pemandangan gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Merapi persis di depan mata.



Cuaca siang itu cukup cerah dengan langit yang berwarna biru. Bahkan matahari bersinar cukup terik saat kita mulai mendirikan tenda. Namun menjelang ashar cuaca sedikit berubah, puncak Sindoro dan Sumbing yang tadinya terlihat mulai tertutupi kabut. Bahkan saya sempat pesimis kalau nanti bisa melihat sunset



Tapi sepertinya alam cukup bersahabat. Menjelang matahari terbenam cuaca benar-benar bagus. Kabut tipis yang menutupi puncak Sindoro dan Sumbing mulai turun ke bawah. Semburat merah kekuningan dari arah barat tampak jelas terlihat yang membuat senja semakin syahdu. 


Udara dingin yang mulai berhembus tidak menghalangi kita untuk menikmati senja yang sangat cantik ini. Perjalanan melelahkan pagi tadi cukup terbayarkan dengan pemandangan cantik ini.

Badai angin dan pasir

Angin masih berhembus seperti biasanya saat kita mulai beristirahat sejenak di dalam tenda sambil berencana melihat bintang nanti malamnya selepas memasak untuk makan malam.
Langit malam itu begitu cantik. 


Ada ribuan bintang yang bisa dilihat langsung dengan mata bertaburan di langit. Tak perlu ke planetarium untuk bisa melihat kiluan bintang tersebut. Langit tampak seperti sangat bersahabat.

Tapi ternyata beberapa jam kemudian badai angin mulai menyerang. Angin yang tadinya berhembus biasa mulai bergerak sangat cepat membawa debu-debu dan pasir masuk ke dalam tendang karena saking kuatnya hembusan. 


Tenda juga harus terseok-seok terkena serbuan angin yang sangat kencang tersebut. Tapi beruntung tenda masih bisa bertahan tidak sampai rusak. Hanya saja barang-barang yang di dalam tenda terkena debu semua karena badai berlangsung lebih dari 3 jam. Hanya bisa pasrah waktu itu.


Sunrise cantik Gunung Prau

Setelah alam yang kurang bersahabat semalaman. Saat saya bangun, alam seperti sudah membaik kembali. Angin masih berhembus cukup kencang, namun tak sekencang semalam. Udara pagi pun tidak terlalu dingin, masih dalam batas wajar. Padahal beberapa Minggu terlakhir kawasan Dieng sedang mengalami penurunan suhu yang cukup drastis. Pada pagi hari bahkan suhunya bisa mencapai -5 derajat dan menimbulkan upas atau embun es.

Para pendaki mulai keluar dari tendanya masing-masing siap menyambut sang fajar. Kamera dan handphone disiapkan untuk menangkap moment cantik yang tidak bisa dinikmati disemua tempat ini.  Hadiah dari alam setelah semalaman diguncang badai angin yang kencang.



Pendaki yang naik ke Gunung Prau hari Senin lalu sepertinya adalah para pendaki yang sangat beruntung. Selain disuguhi dengan senja yang syahdu, pagi harinya mereka juga disuguhi dengan sunrise yang sangat cantik.


Bisa dibilang ini adalah salah satu sunrise terbaik yang pernah saya lihat sejauh ini. Padahal saat perjalanan naik, banyak berpapasan dengan pendaki yang hendak turun bawa mereka tidak mendapat sunrise karena pagi hari yang cukup berkabut.

Ya, kita mungkin memang sangat beruntung karena bisa melihat keduanya baik sunset maupun sunrise yang sangat cantik. Alam memang tidak pernah diprediksi. Tidak pernah kapok mendaki Gunung Prau. Kapan-kapan pasti akan kembali ke gunung ini lagi.