Mau Cari Apa?

,
Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu tujuan wisata utama di Indonesia memang selalu punya acara menarik yang wajib dikunjungi selain tempat wisatanya tentu saja. Pekan lalu ada acara Ngayogjazz yang sukses menyedot ribuan penonton. Acara ini cukup menarik karena musik jazz yang biasanya dinikmati oleh kalangan atas, di Jogja musik ini bisa ditonton dengan panggung yang berada ditengah perkampungan di dekat sawah dan empang milik warga desa. 

Pekan depan ada satu acara menarik lagi yang wajib kamu kunjungi kalau kebetulan sedang traveling ke Jogja antara tanggal 28 November sampai dengan 3 Desember 2022, yaitu Pekan Budaya Difabel (PDB) 2022 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang bertempat di Desa Wisata Kebon Agung, Imogiri, Bantul. Acara ini juga digelar dalam rangkan memperingati Hari Difabel Internasional yang jatuh pada setiap tanggal 3 Desember. Pekan Budaya Difabel sampai saat ini masih menjadi satu-satunya acara kebudayaan untuk difabel yang ada di Indonesia. 




Tahun ini merupakan tahun ke-4 penyelenggaraan Pekan Budaya Difabel. Bermula dari kegiatan Jambore Difabel pada tahun 2016 silam yang melibatkan teman-teman disabilitas, tahun 2019 kemudian berganti nama menjadi Pekan Budaya Difabel yang diisi dengan berbagai acara mulai dari pameran, workshop, pertunjukan, dan operet inklusi. Tahun ke-4 ini, Pekan Budaya Difabel mengambil tema "Ngayomi, Ngayemi" yang secara harfiah mempunyai makna "berlindung" dan "berbahagia". Salah satu tujuan dari acara ini adalah untuk bisa saling melindungi sekaligus membahagiakan, termasuk kepada semua kawan difabel yang ada, jadi secara tidak langsung bisa tercipta inklusivitas. 


Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu diselenggarakan di area dalam kota, Pekan Budaya Difabel 2022 diselenggarakan di Desa Wisata Kebon Agung, Kapanewon Imogiri yang jaraknya kurang lebih 25 km dari pusat kota. Pemilihan tempat ini bukan tanpa alasan. Selain untuk kembali membangkitkan kembali wisata pedesaan di Kebon Agung yang terkenal dengan Bendung Tegal yang asri dan kuliner mie ayamnya, tapi ada keinginan juga dari penyelenggara yang berharap lebih banyak kepedulian terhadap teman-teman difabel yang ada di pedesaan dengan cara hadir langsung ditengah-tengah mereka. Mungkin belum banyak yang tau jika di Imogiri banyak penyandang disabilitas yang disebabkan oleh gempa besar yang terjadi pada 2006 silam. Tahun ini tidak hanya teman-teman disabilitas dari Jogja saja, tetapi ada juga penampil dari luar daerah seperti Malang yang mulai ikut berpartisipasi. 


Pekan Budaya Difabel 2022 akan ada 3 panggung yaitu Panggung Ayom, Panggung Esem, dan Panggung Ayem. Pembukaan acara ini pada tanggal 28 November 2022 akan dibuka dengan penampilan Puser Band bersama dengan mistery guest salah seorang musisi dari Jogja yang saat ini tengah naik naik daun di Panggun Ayom. Puser Bumi sendiri merupakan sebuah kelompok musik yang semua anggotanya adalah difabel tuna netra. Kelompok pernah tampil di luar negeri seperti Korea Selatan. 




Selain pertunjukan musik, kamu juga bisa menyaksikan beberapa pertunjukan lain seperti tari, jathilan, paduan suara, kethoprak lesung, operet, dan minishow Alice In Wonderland. Ada juga workshop membuat tambir, memasak apem, drawing ecoprint, membuat cara bikang, dan melukis kenthongan. Untuk yang mau belajar bahasa isyarat atau BISINDO bisa datang ke Booth Kasuli yang ada setiap hari. Untuk jadwal lengkapnya bisa lihat gambar di bawah ini. 




Jangan khawatir di lokasi Pekan Budaya Difabel 2022 sudah disediakan kereta kelinci dan ojek motor modifikasi dari teman difabel untuk pengunjung yang ingin berkeliling desa. Setiap tempat juga disediakan penerjemah untuk teman-teman tuli yang datang. Acara ini akan ditutup dengan pagelaran yang wayang kulit dengan dalang tuna netra asal Gunungkidul. Penasaran kan dengan keseruan acara ini? Jangan sampai lupa datang ya. Kalau masih bingung sama lokasinya, bisa ikuti petunjuk ini. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis ya. 





,
Tanggal 2-3 November 2022 lau saya berkesempatan mengikuti Famtrip yang diselenggarakan oleh Java Promo dengan tema "a meaningful journey" bersama beberapa rekan blogger dan juga influencer yang tidak hanya berasal dari Jogja saja. Ada beberapa peserta yang datang dari kota lain di Jawa Tengah seperti Magelang, Purwokerto, Klaten, Boyolali, dan Kendal. 

Untuk yang belum tahu, Java Promo adalah forum kerjasama pengembangan pariwisata di 4 kabupaten dan kota yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta. 

Acara diawali dari kantor Dinas Pariwisata DIY sejak pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB. Walaupun pagi itu hujan rintik-rintik mengguyur beberapa wilayah Jogja, tapi semua peserta yang datang tampak antusias. Setelah sambutan dari Kepala Dinas Pariwisata DIY dan PLH Java Promo, acara dilanjutkan dengan sarapan bersama dengan menu gudeg yang merupakan salah satu makanan khas Jogja. Kemudian peserta famtrip diberangkat menggunakan minibus menuju destinasi pertama yaitu Tebing Breksi yang berlokasi di Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman. 

Keseruan Naik Jeep wisata di Shiva Plateau sekitar Tebing Breksi

Saya masih ingat dulu pertama kali datang ke Tebing Breksi pada tahun 2015 saat diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai tempat wisata baru. Saat itu, Komunitas Blogger Jogja juga diundang untuk memeriahkan acara tersebut. Bahkan saya juga menjadi salah satu juara dalam lomba menulis tentang Tebing Breksi dan berhak mendapatkan voucher menginap di salah hotel berbintang di Jogja. 

Jeep Wisata Tebing Breksi



Kondisi Tebing Breksi saat ini sudah berubah jauh dan semakin menarik. Sudah banyak fasilitas dan atraksi tambahan untuk menarik wisatawan datang ke tempat yang dahulunya hanya sebuah tempat penambangan batu kapur oleh warga sekitar. Kegiatan menarik yang perlu dicoba saat ke Tebing Breksi tentu saja adalah berkeliling menggunakan Jeep wisata mengitari kawasan yang biasa dikenal dengan Shiva Plateau. 

Candi Banyunibo



Ada yang tau kenapa disebut dengan Shiva Plateau? Shiva artinya Dewa Siwa, salah satu dewa dalam ajaran Hindu. Sementara Plateau artinya adalah bukit. Selama ini yang banyak orang tahu mungkin hanya Candi Ijo saja yang ada disekitar Tebing Breksi. Padahal masih ada candi Hindu lain yang bisa dikunjungi yaitu Candi Barong dan Candi Banyunibo. Lokasi kedua candi tersebut memang tidak berada di jalan utama, jadi masih banyak orang yang belum tahu keberadaannya. Tapi berkat mengikuti tour Jeep wisata ini, saya jadi tahu keberadaan dan sejarah candi-candi tersebut. Ada yang belum tahu tentang kedua candi tersebut? 

Candi Barong

Candi Banyunibo



Sebelum melewati Candi Barong dan Candi Banyunibo, peserta famtrip terlebih dahulu diajak mampir ke salah satu tujuan yang awalnya merupakan tempat favorit bagi para fotografer yang dikenal dengan nama Spot Riyadi. Tempat ini sebenarnya hanya sebuah halaman rumah warga biasa. Namanya diambil dari nama pemilik rumah yaitu Bapak Riyadi. 


Spot Riyadi



Tapi yang membedakan halaman ini dengan halaman rumah lainnya adalah pemandangannya cantik. Sejauh mata memandang kita akan disuguhi dengan hamparan hijau persawahan dari ketinggian. Rumah Pak Riyadi memang terletak di perbukitan. Jika cuaca sedang cerah, Gunung Merapi tampak gagah persis di hadapan kita jika dilihat dari Spot Riyadi. Candi Prambanan juga bisa kita lihat samar-samar dari kejauhan. Kalau punya lensa tele, kita bisa mendapat gambar candi tersebut dengan bagus. Sebenarnya waktu terbaik berkunjung ke sini adalah pada pagi dan sore hari. Menunggu matahari terbenam sambil menikmati kopi dan pisang goreng yang dijual di warung Pak Riyadi. Sungguh salah satu cara healing yang ampuh untuk mengobati hati yang gundah gulana. 

Kata bapak supir Jeep-nya, tempat terakhir yang harusnya dikunjungi untuk rute medium adalah Tebing Banyunibo dan Candi Ijo. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya kedua tempat tersebut hanya dilewati kemudian diganti dengan mengunjungi Selo Langit. Sepertinya bagian paling seru dari perjalanan tour Jeep wisata ada di tempat ini. Sebelum sampai di parkiran, kita akan dibawa melewati jalanan tanah berlumpur yang cukup menanjak dan becek. Ban mobil beberapa kali slip saat melaju diiringi dengan suara teriakan para penumpang. Beruntunglah para driver Jeep ini tampaknya memang sudah sangat terlatih dalam segala medan. Mobil bisa sampai dengan selamat di parkiran. Mungkin karena saking seru sensasinya, ada beberapa rombongan peserta yang minta keliling lagi melewati kubangan lumpur. Tapi memang seru dan menegangkan sih waktu naik lewat jalan berlumpur. 


Di Selo Langit kita kembali disambut dengan pemandangan yang menyejukan mata setiap pengunjung yang datang. Ada sebuah batu besar tampak menarik perhatian. Batu tersebut biasa dijadikan sebagai tempat untuk berfoto dengan latar belakang pemandangan indah. Buat yang mau cari ketenangan, Selo Langit bisa jadi pilihan tempat yang bisa dikunjungi. 

Selo Langit



Keseruan perjalanan menaiki Jeep berakhir saat kita rombongan Famtrip De Java Promo 2022 kembali ke Tebing Breksi lagi. Sungguh pengalaman pertama yang sangat menyenangkan. Kalau ditanya apakah saya mau kalau harus naik Jeep lagi? Jawabannya tentu saja adalah MAU. Mungkin saya akan memilih rute terpanjang agar bisa menikmati sensasi naik Jeep lebih lama. Acara dilanjutkan dengan makan siang di Balkondes Tebing Breksi sebelum berlanjut ke Desa Wisata Putat yang berada di Kapanewon Patuk, Gunungkidul. 


Belajar membatik kayu di Desa Wisata Putat. Susah juga ternyata pakai canting

Perjalanan menuju ke Desa Wisata Putat ditempuh kurang dari satu jam perjalanan dari Tebing Breksi. Kendaraan sempat tersendat sesaat di Bukit Bintang karena sebagian jalan yang longsor dan harus bergantian lajur dengan kendaraan dari arah sebaliknya. Desa Wisata Putat sudah lama dikenal sebagai sentra pengrajin topeng kayu batik dan berbagai kerajinan yang berbahan dasar kayu. Sebagian besar penduduknya memang punya keahlian dalam mengolah limbah kayu menjadi barang yang menarik. Saya sudah berkali-kali melewati daerah ini saat menuju ke pantai-pantai di Gunungkidul tapi baru kali tahu jika ada desa wisata yang mirip dengan Desa Wisata Krebet di Bantul. 

Eko Bubut Craft



Lokasi pertama yang dikunjungi di Desa Wisata Putat adalah sebuah UMKM milik warga yang biasa dikenal dengan nama Eko Bubut Craft. Di sini diproduksi berbagai macam peralatan makan dan rumah tapi berbahan dasar kayu. Unik kan? 
Kayu yang digunakan adalah limbah atau sisa kayu jati. Menurut Pak Eko sang pemilik usaha, kayu jati dipilih karena memang punya kualitas yang cukup baik. Kelebihan lainnya adalah kayu jati tidak mudah berjamur dan bisa menahan panas. Jadi kalau kita menggunakan gelas kayu untuk menaruh air panas di dalamnya, panasnya tidak akan terlalu tembus ke permukaan luar. 




Masih menurut Pak Eko, tips memilih barang dari kayu jati adalah pilih yang warnanya lebih coklat karena menandakan kayu yang digunakan adalah kayu jati yang tua. Jika warnanya masih agak putih artinya kayu yang digunakan masih cukup mudah. Kayu jati yang lebih tua akan lebih awet dan berumur panjang. Warna yang ada pada kerajinan kayu jati ini merupakan warna alami tanpa tambahan cat. Sebagai bocoran, barang-barang yang dijual di sini harganya jauh lebih murah bahkan bisa separuh harga kalau kita membelinya di pusat souvenir di Malioboro seperti Mirota atau Hamzah Batik. Pak Eko juga menerima siapa saja yang mau jadi reseller loh. 



Lanjut keseruan berikutnya adalah belajar membatik topeng kayu menggunakan canting di Pendopo Batoer yang dulunya merupakan sebuah resort. Sayang tempatnya harus tutup. Padahal pemandangannya sangat cantik. Kedatangan kita disambut dengan kesenian tradisional gejog lesung yang dimainkan oleh ibu-ibu warga sekitar. 





Rombongan Famtrip De Java Promo 2022 dibagi menjadi beberapa kelompok dan dikasih satu buah kompor lengkap dengan wajan yang berisi malam yang akan dipanaskan dan juga canting untuk tiap orang. Sebelum membatik kita diberikan contoh dan pengarahan bagaimana cara menggunakan canting. Ternyata membatik itu gerakannya harus ke depan, tidak boleh menggerakkan ke belakang. Paha digunakan sebagai penopang agar gerakan tangan lebih seimbang. Canting tidak boleh miring ke atas atau bawah agar malam bisa keluar. Terlihat gampang saat melihatnya, tapi pada saat praktek ternyata lumayan susah juga. Mana malamnya beleber kemana-mana. 




Setiap peserta diberi satu topeng kayu yang sudah dilengkapi dengan pola dasar menggunakan pensil. Kita hanya tinggal membubuhkan malam di atas pola yang sudah ada ditambah dengan kreativitas masing-masing. Walaupun banyak malam yang menempel tidak beraturan, saya sangat menikmati kegiatan ini dan tidak sabar menikmati hasil batik pertama karya saya. Semua topeng diberi nama dibagian belakang agar tidak tertukar. 





Untuk melihat hasil akhirnya masih ada 2 proses yang harus dilakukan yaitu mencuci dan merebus topeng menggunakan cairan khusus. Setelah melihat hasilnya, sepertinya saya tidak berbakat menjadi pembatik. Setelah belajar membatik, kita dibawa ke salah satu rumah warga yang dijadikan galeri. Di sini kita bisa melihat berbagai macam topeng batik dan hasil kerajinan kayu lainnya yang di batik. Mulai dari patung loro blonyo yang merupakan simbol kesetiaan pasangan sampai patung kayu yang kecil. 




Sebagai tambahan informasi, kerajinan topeng yang ada di Desa Wisata Putat ini sudah di mulai sejak puluhan tahun lalu. Topeng kayu tersebut awalnya hanya digunakan sebagai pelengkap untuk Tari Topeng Panji yang dipentaskan oleh warga pada saat musim panen. Kemudian ada inisiatif dari salah satu warga agar topeng kayu tersebut dijadikan sebagai salah satu kerajinan khas desa ini. Bahan yang digunakan adalah kayu sengon dan kayu pule. 

Acara Famtrip De Java Tour hari pertama ditutup dengan makan bersama di The Manglung Resto. Salah satu tempat makan di kawasan sekitar Bukit Bintang yang menawarkan pemandangan ke arah Kota Yogyakarta. 





Lanjut ke Part 2 untuk keseruan Famtrip De Java Tour: "a meaningful journey" Day 2








,
Biasanya Jalan Malioboro ditutup untuk kendaraan bermotor mulai pukul 18.00. Namun hari ini penutupan dilakukan lebih awal yaitu mulai pukul 14.00. Pasalnya Jalan Malioboro akan digunakan sebagai tempat berlangsungnya acara Jogja Fashion Carnival 2022. 




Masyarakat lokal dan wisatawan yang sedang berkunjung di Jogja bahkan sudah merayap disepanjang Jalan Malioboro jauh sebelum acara dimulai. Mereka ingin memastikan dapat tempat yang nyaman agar dapat menyaksikan kemeriahan Jogja Fashion Carnival 2022. Walau pun hujan rintik-rintik sempat mengguyur Malioboro tapi penonton tetap setiap menyaksikan acara sampai selesai. 




Tema Jogja Fashion Carnival 2022 adalah "Abiwada Arsana" yang bermakna penghargaan dengan penuh kegembiraan. Selain untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober, acara ini juga digelar dalam rangka pelatikan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa hari yang lalu. Jogja Fashion Carnival 2022 ini juga dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata di Kota Yogyakarta. 




Ada 21 grup pegiat fashion karnaval yang turut serta dalam gelaran Jogja Fashion Carnival 2022 hari ini yang dibagi menjadi 3 jenis tema kostum yaitu sejarah, budaya, dan pendidikan. Peserta tidak hanya berasal dari wilayah DIY saja, tetapi juga dari Malang dan Solo. Kedua kota tersebut memang sudah terkenal dengan acara karnavalnya yang selalu meriah. Usia peserta cukup beragam, mulai dari anak SD, mahasiswa, sampai dengan ibu-ibu. Bahkan saya sempat melihat ada peserta yang usianya sudah terlihat cukup tua. 




Kreasi kostum dengan berbagai gaya dengan sentuhan batik tampak membuat penonton terkagum. Dua grup yang paling mendapat sambutan paling merah adalah grup dari Solo Batik Carnival dan Malang Flower Carnival. Kostum mereka memang cukup spektakuler dan sangat cantik. Tidak heran banyak penonton yang memberikan tepuk tangan saat kedua grup tersebut melintas di depan mereka. 




Kemeriahan acara Jogja Fashion Carnival 2022 dilengkapi dengan penampilan ciamik dari marching band UPN Veteran Yogyakarta dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Semoga acara semacam ini semakin banyak digelar di Jogja sebagai sarana hiburan gratis bagi masyarakat. 
,
Kalau ngomongin wisata Klaten, pasti tidak akan jauh-jauh dari yang namanya umbul. Ya, karena kabupaten yang terletak diantara Jogja dan Solo ini memang dianugerahi dengan banyak sekali umbul atau sumber mata air. Tidak hanya difungsikan sebagai sumber irigasi untuk pertanian dan mandi warga sekitar saja, salah satu produsen air mineral kemasan paling terkenal di Indonesia bahkan sampai punya pabrik di Klaten. Bahkan sejak masa kolonial Belanda dulu umbul-umbul tersebut dijadikan sebagai sumber air untuk pabrik gula yang ada di Ceper. 

Beberapa tahun terakhir ini bahkan umbul disulap menjadi tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi di Klaten. Salah satunya yang paling terkenal adalah Umbul Ponggok yang berlokasi di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo. Wisata ini dikelola secara mandiri oleh masyarakat sekitar melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ponggok. 

Umbul Ponggok tak hanya bisa digunakan untuk berenang saja. Kita juga bisa snorkeling melihat ikan-ikan yang berada di dasar kolam. Setiap hari terutama pada akhir pekan, Umbul Ponggok ramai dikunjungi wisatawan yang tidak hanya datang dari sekitar Klaten saja. Tak sedikit yang berasal dari luar kota bahkan luar pulau. 




Tidak berjarak jauh dari Umbul Ponggok. Ada satu umbul lagi yang bisa dikunjungi yaitu Umbul Kapilaler. Berbeda dengan Umbul Ponggok yang sudah dipoles sedemikian rupa, kolam di Umbul Kapilaler masih terkesan sangat alami. Ciri khas dari umbul ini adalah adanya 2 pohon beringin yang berukuran cukup besar. Entah sudah berusia berapa puluh tahun kedua pohon tersebut. Yang pasti kedua pohon tersebut menjadikan tempat ini menjadi terasa lebih sejuk. 





Harga tiket masuk ke Umbul Kapilaler terbilang cukup murah, Rp10.000 untuk tiket masuk dan Rp3.000 untuk biaya parkir sepeda motor. Setiap pengunjung yang masuk akan mendapatkan satu botol kecil air mineral dan satu botol kecil minuman rasa jeruk. Murah kan harga tiket masuknya? 





Titik terdalam kolam di Umbul Kapilaler sekitar 1.5 meter. Airnya benar-benar jernih dan terasa segar. Saking jernihnya, dasar kolam yang penuh bebatuan dan ikan-ikan yang berenang terlihat cukup jelas.  Kalau tidak ada sinar matahari, airnya jadi terasa lebih dingin. Jadi waktu yang paling cocok untuk berenang di Umbul Kapilaler itu mulai pukul 10.00 pagi. Kalau kepagian siap-siap badan akan menggigil untuk yang tidak kuat dingin. Untuk yang tidak bisa berenang bisa cukup berendam dipinggiran kolam yang tidak terlalu dalam sambil menikmati sejuknya angin yang sepoi-sepoi. Kalau ngajak anak-anak bisa ke Umbul Sigedang yang masih satu area yang lebih cocok digunakan untuk bermain anak-anak karena kolamnya tidak terlalu dalam. 




Oh iya, sebelum berenang di Umbul Kapilaler ini kita bisa mengisi energi dulu sarapan pecel atau soto di warung Soto Pak Sabar depan gang masuk ke area umbul. Karena saya tidak terlalu suka soto, jadi saya lebih memilih pecel. Rasa pecelnya lumayan enak dengan harga yang cukup murah. Satu porsi nasi pecel ditambah telur dadar, satu gorengan, dan teh panas harganya cuma Rp15.000. Murah dan mengenyangkan. Di dalam lokasi Umbul Kapilaler juga ada beberapa lapak pedagang yang menjual aneka minuman dan gorengan. Gorengan anget cocok disantap sehabis kedinginan nyemplung di air. 




Umbul Kapilaler dilengkapi dengan beberapa kamar bilas dan toilet. Sama seperti di kolamnya, air di kamar bilasnya juga bersih dan cukup dingin. Untuk menggunakan kamar bilas ini, pengunjung harus membayar Rp2.000 perorang. Selain itu juga tersedia beberapa gazebo dan meja kursi yang bisa dipakai pengunjung yang tidak ingin berenang. 




Umbul Kapilaler dilengkapi dengan CCTV. Selain itu ada petugas dari pengelola yang selalu berjaga di area kolam mengawasi pengunjung yang berenang. Tapi walaupun begitu, kita harus tetap waspada dan mengawasi barang bawaan kita. 









,
Sudah sejak lama sebenarnya punya rencana untuk berkunjung ke Pasar Papringan Ngadiprono ini. Mungkin sejak banyak berseliwerannya foto tentang Pasar Papringan di media sosial terutama Instagram. Kalau dilihat dari foto-fotonya, semua orang pasti akan tertarik untuk mengunjunginya. Menikmati kuliner khas tradisional di tengah kebun bambu yang anginnya sangat semilir. Sangat sejuk dan tenang pastinya. 




Namun sayangnya, karena lokasinya yang lumayan jauh dari Jogja, rencananya untuk berkunjung selalu tertunda. Kalau pun kebetulan lewat Temanggung buat pulang kampung, ternyata bukan hari yang pas. Sebagai informasi saja, Pasar Papringan hanya buka setiap hari Minggu Wage dan Pon. Jadi pastikan dulu harinya sebelum berkunjung ke Pasar Papringan. 




Pasar Papringan sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Bahkan bisa dibilang sebagai pelopor pasar sejenis yang ada di Jawa Tengah dan Jogja seperti Pasar Lembah Merapi yang berlokasi di Kecamatan Dukun, Magelang atau Pasar Kebon Empring di Kecamatan Piyungan, Bantul. Selama pandemi hampir 2 tahun, Pasar Papringan juga ikut hiatus. Setelah kondisi membaik, pasar ini kembali dibuka. 


Lokasi Pasar Papringan mudah dijangkau baik menggunakan sepeda motor atau mobil. Hanya saja ketika mulai memasuki jalan dusun, ruas jalan mulai menyempit dan berganti dari aspal ke jalan cor. Mobil harus berhati-hati saat bersimpangan. Tapi tenang saja, warga sekitar sudah bersiaga mengatur lalu lintas arus kendaraan yang datang maupun pergi. 

Sebelum memasuki areal parkir, semua kendaraan harus membayar parkir terlebih dahulu. Biayanya Rp3.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil. Dari areal parkir yang berlokasi di halaman rumah warga kita masih harus berjalan sedikit lagi untuk bisa sampai ke area kebun bambu yang dijadikan sebagai lokasi pasar. 




Alat pembayaran yang berlaku di Pasar Papringan adalah pring. Jadi kita harus menukarkan uang kita terlebih dahulu. 1 pring nilanya sama dengan Rp2.000. Oh iya, pring yang sisa tidak dapat diuangkan kembali. Ada baiknya pikir-pikir dulu mau tukar seberapa banyak. 





Memasuki area Pasar Papringan kita akan disambut suara gamelan yang terdengar sangat syahdu yang berpadu dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi. Para pemainnya cukup terlihat sangat niat dengan seragam baju tradisional Jawa. Begitupun dengan semua pedagang yang mengenakan baju yang seragam. Ini salah satu yang membedakan dengan pasar sejenis yang saya sebut tadi. Pengelola Pasar Papringan terlihat sangat total dalam pengelolaan. 






Ada puluhan pedagang yang menjajakan makanan dengan menggunakan meja bambu. Saking banyaknya jajanan yang ada, malah jadi bingung harus beli yang mana. Karena semuanya tampak enak dan menggiurkan. Mulai dari camilan sampai makanan berat. Semua jajanan yang dijual merupakan jajanan tradisional yang sudah jarang ditemui.

Pasar Papringan ini terbebas dari sampah plastik. Semua makanan dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Jika ingin membawa makanan dalam jumlah yang banyak untuk dibawa pulang, pengunjung bisa membeli keranjang bambu buatan ibu-ibu di sini. Tak cuma makanan, di sini juga ada beberapa permainan yang menggunakan bambu seperti enggrang, ayunan, dan jungkat-jungkit. 




Kalau ditanya apakah akan mengunjungi Pasar Papringan ini diwaktu yang akan datang? Jawabannya tentu saja iya.