August 14, 2018

Pemandangan Super Cantik di Gunung Prau


Jarak tempuh ke puncak yang cukup singkat, yaitu sekitar 2-3 jam saja membuat Gunung Prau idola bagi banyak pendaki pemula atau orang yang belum pernah naik gunung sama sekali. Ditambah lagi dengan pemandangan yang luar biasa cantik menjadikan Gunung Prau banyak dikunjungi orang setiap harinya.

Sindoro, Sumbing, Merapi, dan Merbabu tampak dari puncak Prau

Hari Senin (06-08-18) lalu adalah kali kedua saya melakukan pendakian di Gunung Prau setelah tahun lalu tepat di Hari Raya Iduladha berhasil menapaki gunung di kawasan Dieng yang mempunyai ketinggian 2.565 mdpl ini. Masih sama seperti tahun lalu, jalur yang digunakan adalah Jalur Patak Banteng. Alasannya tentu saja karena saya sudah pernah melewati jalur tersebut. Kali ini saya mendaki bersama 3 orang teman dari Jakarta dan Paris yang belum pernah naik ke Gunung Prau. 2 orang diantara mereka bahkan sama sekali belum pernah naik gunung.

Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng

Selain jalur pendakian via Patak Banteng, masih ada beberapa jalur pendakian lain yang umum digunakan untuk menuju puncak Gunung Prau seperti jalur Dieng, Kalilembu, Dwarawati, dan Wates.

Basecamp Patak Banteng lokasinya hanya beberapa ratus meter saja dari jalan raya. Tepatnya di Jalan Raya Wonosobo Dieng KM 24 Desa Patak Banteng, Kejajar, Wonosobo. Letaknya tidak terlalu jauh dari gapura yang ada tulisan "Kawasan Wisata Dieng Plateau".

Basecamp Patak Banteng


Basecamp Patak Banteng ini menjadi tempat awal sebelum memulai perjalanan menuju puncak Gunung Prau. Semua pendaki yang datang harus melapor terlebih dahulu kepada petugas. Untuk yang membawa kendaraan pribadi juga bisa menitipkan kendaraan atau helmnya sekaligus.

Ruangan di dalam basecamp cukup besar, biasa digunakan oleh para pendaki sebelum naik dan sesudah turun dari puncak untuk beristirahat sejenak. Selain itu juga dilengkapi dengan toilet yang bisa digunakan untuk mandi atau buang air. Di depan basecamp banyak warung yang menjual makanan atau minuman untuk mengisi perut. Untuk yang belum membawa peralatan mendaki, disekitar basecamp Patak Banteng ini juga ada tempat persewaannya.

Jalur menuju puncak Gunung Prau

Perjalanan dari basecamp Patak Banteng menuju ke puncak Gunung Prau bisa ditempuh kurang lebih selama 2-3 jam dengan jalur yang terbilang mudah untuk pendaki pemula sekalipun. Mungkin untuk yang sudah biasa mendaki gunung perjalanan akan lebih cepat.

Dari basecamp menuju ke Pos I Sikut Dewo ada 2 pilihan. Untuk yang mau menyimpan banyak energi, bisa menggunakan jasa ojek yang ada di depan basecamp. Untuk yang memilih jalan kaki, jalur pertama yang harus dilalui ada pemukiman warga melewati tangga "Ondo Sewu" yang menanjak cukup tinggi. Biasanya di jalur inilah kaki kita mulai melakukan penyesuaian. Dari yang biasa digunakan jalan santai, langsung digunakan untuk naik tanjakan. Setelah ujian pertama ini kita akan melewati perkebunan warga dilanjutkan dengan jalan berbatu atau makadam sampai dengan Pos I.



Perjalanan dari Pos I menuju ke Pos II jalurnya mulai berubah dari jalanan berbatu menuju jalan tanah yang seluruhnya berada ditengah ladang penduduk. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi dengan kebun-kebun kentang yang merupakan salah satu komoditas pertanian di Dieng. Dari kejauhan kita bisa melihat ladang-ladang petani yang berbentuk terasering. Cukup indah buat dipandang mata. Sepanjang rute menuju pos II Canggal Walangan ini terdapat banyak warung yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat. Warung-warung tersebut biasanya menjual semangka, pisang, gorengan, dan berbagai minuman. Sepotong semangka terasa sangat segar saat masuk ke dalam mulut yang sedang tersengal-sengal kehabisan nafas karena berjalan.



Tantangan terberat menuju ke puncak Gunung Prau adalah dari Pos II menuju ke Pos III Cacingan dilanjutkan sampai ke Plawangan. Kenapa? Karena sudah tidak ada lagi warung dan jalur yang harus dilalui cukup menantang. Jalanan tanah dan batuan yang menanjak cukup tinggi. Harus benar-benar berhati-hati melalui jalur tersebut. Dari jalur ini kita bisa melihat Telaga Warna dan Gunung Slamet yang tampak dari kejauhan.

Sunset cantik di Gunung Prau

Kita memang sudah merencanakan pendakian pagi hari supaya bisa istirahat dan menikmati sunset. Saya berangkat dari Jogja menggunakan sepeda motor sekitar jam 05.00 pagi dan sampai di Patak Banteng sekitar pukul 09.30 karena harus berhenti dulu di Pasar Garung untuk membeli beberapa bahan makanan yang belum ada.



Sementara teman-teman saya yang berangkat dari Jakarta sudah sampai di Patak Banteng sejak subuh. Lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Mulai perjalanan kurang lebih pukul 10.00 dan sampai di puncak pada pukul 13.15. Belum terlalu banyak yang sampai puncak saat itu.

Setelah berkeliling, akhirnya kita memutuskan memilih tempat sedikit diatas bukit untuk mendirikan tenda. Selain tempatnya yang cukup lapang, tempat yang kita pilih tepat persis dihadapan gunung-gunung lain. Jadi seandainya besok pagi membuka tenda, kita bisa melihat langsung pemandangan gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Merapi persis di depan mata.



Cuaca siang itu cukup cerah dengan langit yang berwarna biru. Bahkan matahari bersinar cukup terik saat kita mulai mendirikan tenda. Namun menjelang ashar cuaca sedikit berubah, puncak Sindoro dan Sumbing yang tadinya terlihat mulai tertutupi kabut. Bahkan saya sempat pesimis kalau nanti bisa melihat sunset. Tapi sepertinya alam cukup bersahabat. Menjelang matahari terbenam cuaca benar-benar bagus. Kabut tipis yang menutupi puncak Sindoro dan Sumbing mulai turun ke bawah. Semburat merah kekuningan dari arah barat tampak jelas terlihat yang membuat senja semakin syahdu. Udara dingin yang mulai berhembus tidak menghalangi kita untuk menikmati senja yang sangat cantik ini. Perjalanan melelahkan pagi tadi cukup terbayarkan dengan pemandangan cantik ini.

Badai angin dan pasir

Angin masih berhembus seperti biasanya saat kita mulai beristirahat sejenak di dalam tenda sambil berencana melihat bintang nanti malamnya selepas memasak untuk makan malam.
Langit malam itu begitu cantik. Ada ribuan bintang yang bisa dilihat langsung dengan mata bertaburan di langit. Tak perlu ke planetarium untuk bisa melihat kiluan bintang tersebut. Langit tampak seperti sangat bersahabat.

Tapi ternyata beberapa jam kemudian badai angin mulai menyerang. Angin yang tadinya berhembus biasa mulai bergerak sangat cepat membawa debu-debu dan pasir masuk ke dalam tendang karena saking kuatnya hembusan. Tenda juga harus terseok-seok terkena serbuan angin yang sangat kencang tersebut. Tapi beruntung tenda masih bisa bertahan tidak sampai rusak. Hanya saja barang-barang yang di dalam tenda terkena debu semua karena badai berlangsung lebih dari 3 jam. Hanya bisa pasrah waktu itu.

Sunrise cantik Gunung Prau

Setelah alam yang kurang bersahabat semalaman. Saat saya bangun, alam seperti sudah membaik kembali. Angin masih berhembus cukup kencang, namun tak sekencang semalam. Udara pagi pun tidak terlalu dingin, masih dalam batas wajar. Padahal beberapa Minggu terlakhir kawasan Dieng sedang mengalami penurunan suhu yang cukup drastis. Pada pagi hari bahkan suhunya bisa mencapai -5 derajat dan menimbulkan upas atau embun es.

Para pendaki mulai keluar dari tendanya masing-masing siap menyambut sang fajar. Kamera dan handphone disiapkan untuk menangkap moment cantik yang tidak bisa dinikmati disemua tempat ini.  Hadiah dari alam setelah semalaman diguncang badai angin yang kencang.



Pendaki yang naik ke Gunung Prau hari Senin lalu sepertinya adalah para pendaki yang sangat beruntung. Selain disuguhi dengan senja yang syahdu, pagi harinya mereka juga disuguhi dengan sunrise yang sangat cantik. Bisa dibilang ini adalah salah satu sunrise terbaik yang pernah saya lihat sejauh ini. Padahal saat perjalanan naik, banyak berpapasan dengan pendaki yang hendak turun bawa mereka tidak mendapat sunrise karena pagi hari yang cukup berkabut.

Ya, kita mungkin memang sangat beruntung karena bisa melihat keduanya baik sunset maupun sunrise yang sangat cantik. Alam memang tidak pernah diprediksi. Tidak pernah kapok mendaki Gunung Prau. Kapan-kapan pasti akan kembali ke gunung ini lagi.


2 comments:

  1. Berasa di atas awan ya. Cantik bgt kebayang dinginnya pas mendaki ke puncak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kebetulan kan Dieng lagi dingin-dinginnya. Tapi puas dengan pemandangan cantik yang dilihat

      Delete

Follow me @novaaristianto