August 31, 2018

,

Ngopi akhir-akhir ini sepertinya selalu diidentikan dengan anak gaul yang serba kekinian. Banyak cafe atau tempat nongkrong baru bermunculan dengan mengusung kopi sebagai jualan utamanya. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di kota besar saja, kota-kota kecil pun tidak mau ketinggalan dengan tren ini. Apalagi setelah muncul film yang mengangkat tema tentang kopi. Banyak orang yang akhirnya mulai melirik kopi.

Saya sebenarnya bukan pecinta kopi, tidak terlalu banyak tau juga tentang kopi. Tapi dari kecil saya sudah terbiasa minum kopi hitam karena meniru kakek nenek di kampung yang hampir setiap hari menyeduh kopi. Kopi yang saya minum berasal dari kebun milik sendiri. Hanya ada beberapa pohon saja, tapi saat musim kopi bisa menghasilkan cukup banyak buah. Bahkan kadang-kadang dijual kalau harganya lumayan tinggi.

Dari mulai pemetikan sampai proses penumbukan menjadi bubuk kopi semua dilakukan secara manual oleh kakek dan nenek.  Di rumah ada alat khusus bernama "lumpang" yang biasa digunakan untuk menumbuk kopi dan padi. Kopi jadi minuman wajib pada pagi atau sore hari untuk menghangatkan tubuh. Namun sayangnya sekarang sudah tidak terlalu banyak pohon kopi lagi di kampung saya.



Tidak terlalu jauh dari kampung saya, tepatnya di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah terdapat sebuah warung kopi sederhana bernama Tombo Coffee yang bisa dikunjungi jika ingin menikmati kopi sambil menikmati suasana pedesaan yang dikelilingi oleh kebun teh dan kopi.

Tombo Coffee berada pada ketinggian sekitar 700 mdpl sehingga udaranya cukup segar dan dingin. Apalagi keberadaan kebun teh yang tidak terlalu jauh dari Desa Tombo membuat suasana desa ini sangat asri dan tenang. Yang unik, kopi yang dijual di Tombo Coffee ini berasal dari hasil panen penduduk desa sekitar yang memang punya banyak perkebunan kopi. Jenis kopi yang dihasilkan ada robusta, arabica, dan excelsa.



Awalnya Tombo Coffee didirikan hanya sebagai tempat pengolahan kopi menjadi bubuk kopi saja. Selain itu tempat ini juga digunakan sebagai ajang silaturahmi antar warga. Tapi sekarang Tombo Coffee sudah disulap menjadi sebuah cafe sederhana yang setiap hari rame dikunjungi oleh para penikmat kopi. Tidak hanya warga sekitar, tapi juga orang yang sengaja datang untuk mencicipi kenikmatan Kopi Tombo walau jaraknya lumayan jauh dari kota. Tombo Coffee letaknya kurang lebih 25 km dari pusat Kota Batang.



Kopi tubruk jadi pilihan saya di sini. Alasannya cukup sederhana, karena saya ingin bernostalgia mengingatkan kembali jaman-jaman dulu saat kakek dan nenek saya masih hidup. Ditemani dengan pisang goreng, kopi tubruk yang sruput seolah membawa kembali memori saat masih kecil bersama kakek dan nenek. Saya sangat dekat dengan mereka. Yang tidak pernah memanggil mereka mbah. Saya selalu memanggil mereka bapak dan "simak", sama seperti saat memanggil kedua orang tua saya.



Untuk yang tidak suka kopi tubruk, di Tombo Coffee juga ada beberapa menu kopi lain yang lebih kekinian seperti Vietnam drip atau late dengan harga yang cukup terjangkau.



Untuk para pecinta kopi dijamin tidak akan menyesal kalau datang ke Tombo Coffee. Dimana lagi bisa menikmati kopi ditengah perkebunan kopinya langsung?
Tombo Coffee buka setiap hari mulai pukul 09.00 sampai pukul 17.00 WIB.


Tombo Coffee
Jalan Puncak KM 5 Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah
Telp: 0823-2660-8070

August 29, 2018

,


Sekitar 6 tahun yang lalu saat berada di Belanda, tepatnya di Kota Nunspeet, Gelderland saya pernah diajak oleh saudara saya untuk naik kuda keliling hutan. Yap, ini beneran menunggangi kuda sendiri lalu berkeliling hutan yang memang terletak tidak jauh dari pusat kota.

Karena ini adalah pengalaman pertama, ada ketakutan kalau terjadi apa-apa. Misalnya kalau tiba-tiba kudanya lari kenceng dan ga bisa dikendalikan. Tapi saudara saya meyakinan kalau kuda itu adalah salah satu hewan penurut asal kita tau bagaimana cara mendekati dan memperlakukan kuda tersebut dengan baik dan penuh perasaan.

Dengan training selama kurang lebih selama 15 menit, akhirnya saya bisa benar-benar menunggangi kuda dan berkeliling hutan. Berkuda itu sangat menyenangkan. Tidak hanya bisa membuat badan sehat, tapi juga membuat pikiran jadi lebih tenang. Apalagi kalau berkudanya di alam bebas dengan udara yang masih segar.

Akhirnya setelah 6 tahun, Minggu lalu bisa kesampaian lagi untuk menunggang kuda bersama teman-teman Blogger Jogja. Bukan di Belanda, tapi di Jogja. Mungkin banyak yang belum tau kalau ternyata di Jogja juga ada tempat wisata berkuda yang cukup seru dan menyenangkan bernama Bale Kuda Stable.



Ga cuma berkeliling paddock aja, kita juga bakal diajak berkuda mengitari kawasan sekitar melewati perkampungan, persawahan, dan Selokan Mataram yang cukup legendaris bagi warga Jogja. Dan yang paling seru adalah kita akan dibawa menyusuri sungai menggunakan kuda. Kebayang kan serunya kayak apa? Berasa seperti pendekar-pendekar di film Saur Sepuh.

Photo by Bale Kuda Stable


Selama ini berkuda memang dikenal sebagai salah satu olahraga yang cukup mahal dan hanya bisa dinikmati oleh beberapa kalangan saja. Yang pasti karena seekor kuda itu harganya cukup mahal. Selain itu berkuda juga membutuhkan tempat yang luas. Tapi di Bale Kuda Stable ini, semua orang bisa berkuda. Mulai dari anak-anak sampai dengan orang tua sekalipun.

Banyak penelitian yang mengatakan bahwa berkuda untuk anak-anak bisa menumbuhkan keberanian dan ketangkasan. Bahkan bagi anak- anak berkebutuhan khusus, berkuda dapat merangsang pertumbuhan motorik. Sementara buat orang dewasa, menepuk-nepuk punggung kuda juga diyakini bisa menurunkan tekanan darah. Ada yang suka tensinya naik karena kerjaan? Mungkin ada baiknya untuk mencoba berkuda di Bale Kuda Stable ini.

Photo by Bale Kuda Stable


Bale Kuda Stable ini baru dibuka pada Januari 2017 lalu. Namun peminatnya sudah cukup banyak. Bukan cuma dari warga Jogja saja, banyak pula warga dari luar kota bahkan luar negeri pernah mencoba keseruan berkuda di Bale Kuda Stable.

Saat ini ada 4 kuda yaitu Putri, Dalmi, Dewi Merapi, dan Jelita yang menjadi penghuni Bale Kuda Stable dan siap memanjakan pengunjung yang ingin merasakan pengalaman berkuda. Keempatnya berjenis kelamin betina. Kuda betina katanya lebih tenang dan mudah untuk dilatih.

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, kuda adalah salah satu hewan yang cukup perasa. Dia tau siapa saja yang sayang sama mereka. Pemilik Bale Kuda Stable ini tampaknya memang menyayangi keempat kuda yang ada dengan sepenuh hati. Karena terlihat sekali kuda-kuda tersebut menjadi sangat penurut.

Ada beberapa pilihan paket berkuda di Bale Kuda Stable dengan harga yang cukup terjangkau. Mulai dari Rp20.000 untuk 2 kali putaran paddock atau Rp75.000 jika ingin ditambah dengan menyusuri Sungai Nglarang yang tepat berada disamping stable.

Photo by Bale Kuda Stable & anotherorion.com


Untuk yang ingin lebih lama berkuda, ada pilihan paket berkuda selama kurang lebih selama 45 menit sampai 1 jam dengan biaya Rp250.000. Rutenya berkeliling desa melewati perumahan penduduk, persawahan, Selokan Mataram, dan diakhiri dengan susur sungai Nglarang.

Photo by Bale Kuda Stable

Saya memilih rute yang panjang ini selain karena memang kangen menunggang kuda, saya juga ingin menikmati suasana pedesaan Jogja dengan cara yang berbeda. Bale Kuda Stable juga membuka kursus bagi yang ingin belajar berkuda loh. Konsepnya fun riding horse dengan biaya Rp100.000 per 30 menit Ada yang mau belajar berkuda?

Bale Kuda Stable ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 sampai pukul 17.00. Selamat berkuda!


Bale Kuda Stable
Jl. Sidomoyo - Cebongan Dusun Simping Janturan, RT.005/RW.13, Tirtoadi, Mlati, Sleman
Telp: 0878-3958-0689
Instagram: @balekudastable






August 26, 2018

,

Untuk masalah kuliner, Jogja dan sekitarnya sepertinya tidak akan pernah kehabisan tempat. Selalu ada saja tempat nongkrong atau tempat makan baru yang menawarkan konsep yang menarik. Mulai dari yang berkonsep modern sampai yang berkonsep tradisional sekalipun. Mau jenis makanan apa saja? Bisa tinggal pilih mau makan apa.



Buat yang sedang berjalan-jalan ke Candi Prambanan atau Candi Plaosan, sepertinya tidak boleh melewatkan Wedang Kopi Prambanan begitu saja. Restauran yang baru buka sekitar setahunan yang lalu ini punya konsep yang cukup unik. Yaitu perpaduan antara Jawa klasik dan alam.


Rumah Joglo yang dikelilingi kebun jagung


Wedang Kopi Prambanan terletak di Jalan raya Klaten-Manisrenggo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Letaknya sangat dekat dengan Candi Plaosan yang dikenal sebagai candi kembar dengan kisah romantis dibalik pembuatannya. Lokasinya berada dipinggir jalan raya sehingga cukup mudah ditemukan dengan bantuan Google Map.



Sampai di parkiran Wedang Kopi Prambanan, kita akan disambut dengan sebuah bangunan rumah joglo yang sangat klasik lengkap dengan sebuah andong tanpa kuda yang menjadi hiasan di depannya. Di dalam joglo tersebut terdapat banyak kursi-kursi kayu dengan anyaman rotan yang sangat cocok dengan suasananya. Ditambah lagi dengan lantai tegelnya yang menjadikan Wedang Kopi Prambanan terlihat sangat klasik.




Masuk ke dalam, ternyata tidak hanya ada satu joglo. Dibagian dalam Wedang Kopi Prambanan masih ada 2 joglo lagi yang dipisahkan dengan area taman hijau yang cantik lengkap dengan kolam ikan dan air mancur.



Disekitar kolam terdapat dua buah sepeda jengki dan juga lesung. Untuk yang belum tau, lesung itu adalah alat yang dahulu digunakan untuk menumbuk padi menjadi beras dengan menggunakan kayu bulat panjang yang disebut alu. Kalau mau benar-benar merasakan nuansa tempo dulu, di Wedang Kopi Prambanan kita bisa meminjam baju tradisional Jawa secara gratis. Baju-baju tersebut tersedia di dalam lemari kayu yang berada disebrang meja kasir.



Yang unik ada 2  bekas kandang sapi yang diubah menjadi tempat untuk makan. Selain itu ada banyak kursi dan meja kayu yang berjajar rapi di sisi utara lengkap dengan pepohonan yang masih dipertahankan.



Kursi-kursi ini sangat cocok untuk bersantai kalau datang ke sini sore hari. 
Menikmati semilir angin sambil menanti pemandangan matahari terbenam. Wedang Kopi Prambanan dikelilingi oleh perkebunan jagung milik penduduk sekitar. Dari kejauhan kita juga bisa melihat perbukitan hijau.


Masakan rumahan yang nikmat






Sesuai dengan konsepnya, Wedang Kopi Prambanan menjual berbagai masakan rumahan tradisional dengan sistem prasmanan. Beberapa menu andalannya antara lain sayur asem, oseng soun, oseng daun pepaya, oseng bunga pepaya, ayam goreng, dan telur kremes. Ada 2 pilihan nasi yang bisa dipilih, yaitu nasi putih dan nasi merah.



Ada banyak pilihan minuman racikan kopi. Tapi karena saya bukan penggemar kopi, jadi saya lebih memilih minuman lain yang cukup tradisional yaitu wedang uwuh dan wedang jangkruk. Selain itu masih ada banyak minuman tradisional lagi yang menyegarkan tenggorokan. Sebagai tambahan ada camilan seperti mendoan, pisang goreng, dan singkong goreng.



Suasana yang asri menjadi semakin syahdu karena sepanjang hari Wedang Kopi Prambanan memutar lagu-lagu bossanova Jawa. Waktu paling tepat untuk berkunjung ke sini adalah pada sore hari. Jika cuaca sedang cerah, kita juga bisa menikmati sunset yang cantik.

August 20, 2018

,

Temanggung memang dianugerahi oleh Tuhan pemandangan alam yang sangat cantik. Wilayah kabupaten yang masuk dalam provinsi Jawa Tengah ini dikelilingi oleh beberapa pegunungan yang tidak hanya cantik, tapi juga membuat udara di  kota penghasil tembakau ini sangat sejuk. Mirip dengan kota-kota di Eropa.

Saat duduk di bangku sekolah dasar, kita pasti pernah menggambar pemandangan dengan 2 buah gunung dengan sawah dan jalan ditengahnya. Gambaran yang cukup legendaris itu bisa kita saksikan langsung di Temanggung. Gunung Sindoro dan Sumbing tampak mengapit wilayah Temanggung. Kedua gunung tersebut biasa dijuluki dengan gunung kembar karena terlihat tampak bersebelahan jika dilihat dari kejauhan.



Banyak sekali wisata alam cantik yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah Embung Kledung yang terletak di Kecamatan Parakan ini. Karena keindahan pemandangannya, tidak sedikit orang yang menyebut pemandangan di Embung Kledung mirip dengan pemandangan Gunung Fuji yang ada di Jepang.


Waduk buatan untuk menyimpan cadangan air


Embung Kledung sendiri merupakan sebuah waduk buatan yang mulai dibangun pada tahun 2010. Lokasi pembangunan embung dahulunya merupakan lahan perkebunan tembakau milik warga Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Embung Kledung dibuat sebagai tempat menyimpan cadangan air untuk lahan pertanian saat musim kemarau.



Yang unik, Embung Kledung juga digunakan sebagai tempat untuk memelihara ikan mas. Ikan-ikan tersebut akan muncul ke permukaan saat ada orang yang datang mendekati bibir kolam. Namun kata penjaga Embung Kledung, mereka sama sekali tidak pernah mengambil atau memanen ikan-ikan yang ada di embung.



Ikan-ikan tersebut dibiarkan hidup bahkan ada yang ukurannya sangat besar. Untuk pengunjung yang ingin memberi makan ikan, bisa membelinya di loket pembelian karcis. Mereka menjual pakan ikan dengan harga yang cukup murah.


Akses dan harga tiket Embung Kledung


Embung Kledung cukup mudah dijangkau karena letaknya tidak terlalu jauh dari Jalan raya Parakan Wonosobo. Walaupun jalan menuju ke lokasi belum beraspal dan hanya jalan berbatu, tapi bisa dilewati oleh mobil atau sepeda motor. Tapi harus tetap hati-hati apalagi untuk yang menggunakan sepeda motor karena cukup licin. Harga tiket Embung Kledung hanya Rp5.000, sudah termasuk dengan parkir sepeda motor dan sebuah stiker.



Waktu terbaik untuk ke sini adalah pada pagi atau sore hari sekalian. Karena siang hari biasanya Gunung Sindoro dan Sumbing tertutup oleh awan yang cukup tebal.



Pada pagi hari, Gunung Sindoro tampak begitu jelas ada di depan mata. Awan tipis yang biasanya menyelimuti puncak gunung semakin menambah cantik pemadangan. Jika kita menoleh ke sisi sebrangnya, kita akan disuguhi pemandangan perumahan warga yang berada diatas bukit dengan latar belakang Gunung Sumbing yang tampak gagah.

Embung Kledung berhasilsejenak membawa saya ke sebuah kedamaian yang sesungguhnya. Ada sebuah ketenangan yang menyejukan mata sekaligus pikiran.

,
Kalau beberapa waktu lalu sempat nyobain kelezatan BBQnya, kali ini saya kembali datang ke Atrium Premiere Hotel Jogja untuk mencicipi menu breakfast. Penasaran kan ada menu apa saja yang bisa dimakan buat sarapan di hotel bintang 3 ini?



Breakfast di Atrium Premier Hotel Jogja setiap harinya dimulai pukul 06.00 sampai pukul 10.00 WIB. Tempatnya sama yaitu di Pelataran Resto yang tidak terlalu jauh dari lobi dan resepsionis. Bukan Cuma tamu yang menginap di hotel ini saja yang bisa sarapan di sini. Orang dari luar pun bisa menikmati kelezatan makanan yang disajikan di Atrium Premiere Hotel. Cukup dengan membayar Rp60.000/orang, kita bisa menikmati semua menu yang ada alias all you can eat. Lumayan kan dengan harga yang terjangkau tapi bisa bikin kenyang.



Nasi goreng jadi menu andalan breakfast di Atrium Premiere Hotel Jogja. Makanan asli Indonesia yang pernah dinobatkan jadi salah satu makanan terenak di dunia tersebut disajikan bersama ayam goreng bumbu kacang dan olahan mie. Bumbu nasi gorengnya cukup pas untuk dinikmati oleh lidah orang Indonesia seperti saya. Ayam goreng bumbu kacangnya semakin menambah kelezatan. Rasa kedua masakan tersebut bisa benar-benar menyatu. Untuk yang suka makan sate ayam, bumbu yang digunakan untuk ayam goreng ini sangat mirip. Untuk yang tidak makan nasi, ada menu toast bread juga yang bisa dipilih. Sebagai pelengkap kita bisa request kepada chef yang ada di Pelataran Resto untuk membuat scrambled egg.



Sebelum mencicipi kelezatan menu utama, kita bisa memilih beberapa makanan pembuka seperti bubur ayam atau soto. Untuk yang suka dengan yang manis-manis, ada bubur mutiara dan bubur sumsum yang tersedia di Angkringan Atrium. Angkringan ini memang khusus dibuka setiap pagi saat jam sarapan. Selain kedua bubur tersebut ada beberapa makanan tradisional lain yang ada di Angkringan Atrium seperti pecel, ketela rebus, sampai jamu beras kencur dan kunir asem. Kapan terakhir kali minum jamu? Selain kenyang, sarapan di Atrium Premiere Jogja juga bisa bikin badan sehat. Selain itu juga ada banyak pilihan minuman lain seperti kopi, teh,dan aneka jus.



Beberapa waktu lalu Atrium Premiere Jogja juga baru saja meluncurkan menu baru untuk breakfast yaitu sushi. Karena kebetulan masih dalam kemeriahan memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73, sushi dan burger yang disajikan dihiasi dengan bendera merah putih. Ada yang suka makanan asal Jepang ini? Sebagai penutup, tersedia potongan buah-buah segar dan beberapa jenis kue yang bisa dicicipi.




Jangan lupa ya, breakfast di Atrium Premiere Hotel Jogja mulai pukul 06.00 sampai pukul 10.00 di Pelataran Resto. Cukup dengan membayar Rp60.000/orang bisa makan kenyang sepuasnya.


August 18, 2018

,
Bagi umat Katholik, Bunda Maria adalah salah satu sosok yang paling penting dan dihormati. Ibu dari Yesus Kristus ini merupakan simbol dari kesucian dan perdamaian umat manusia. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang sangat bijaksana dan dekat dengan semua golongan semasa hidupnya.


Di Ambarawa, Kabupaten Semarang tepatnya di Gua Maria Kerep  sejak tahun 2015 lalu berdiri dengan kokoh patung Maria Assumpta yang menjadi ikon baru salah satu Kota Perjuangan di Indonesia ini. Bahkan disebut-sebut bahwa patung Maria Assumpta tersebut merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara bahkan dunia.

Patung Maria Assumpta di Gua Maria Kerep Ambarawa ini tingginya 19 meter dengan topangan setinggi 23 meter. Jadi total tinggi keseluruhan patung ini adalah 42 meter. Patung Maria Assumpta ini dibuat oleh 3 orang seniman lokal Ambarawa yang bermukim tidak terlalu jauh dari Gua Maria Kerep. Patung dibuat dalam rangka Hari Ulang Tahun Gua Maria Kerep yang 61 pada 15 Agustus 2015. Bahan yang digunakan untuk membuat patung adalah bahan resin dan pasir kwarsa. Proses pembuatannya berlangsung kurang lebih selama 1 tahun.



Patung Maria Assumpta ini menghadap ke arah matahari terbit sebagai simbol bahwa Bunda Maria menyinari semua orang tanpa mengenal baik atau buruk orang tersebut. Tangan-Nya yang terkatup merupakan lambang kesetiaan dia terhadap Allah. Sementara awan putih serta 3 malaikat kecil yang berada di bagian bawah merupakan gambaran saat Dia diangkat ke surga (assumpta).



7 buah pilar menyangga patung Maria Assumpta yang berdiri kokoh ini. Lalu di bawah pilar terdapat sebuah dinding melingkar yang dihiasi 7 lukisan Sapta Duka Bunda Maria. Mulai dari Nubuat Simeon sampai proses pemakaman Yesus Kristus.



Patung Maria Assumpta ini tidak hanya menjadi daya tarik umat Katholik yang ada di Indonesia. Banyak juga umat yang datang dari berbagai negara lain. Suasana Ambarawa yang sejuk menjadi salah satu daya tarik umat untuk berdoa di Gua Maria Kerep ini.

August 17, 2018

,

Kalau ngomongin masalah kuliner di Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Setiap daerah di Indonesia pasti punya paling tidak satu makanan khas yang jadi kebanggaan. Salah satu kuliner khas Indonesia yang bisa dijumpai diberbagai daerah adalah soto. Walaupun berbahan dasar hampir sama, namun cara pengolahan dan penambahan beberapa bumbu membuat soto di setiap daerah berbeda rasanya.

Pekalongan yang dikenal sebagai Kota Batik ternyata juga punya soto khas yang wajib untuk dicoba yaitu tauto (tauco soto). Yang membuat tauto berbeda dengan soto di daerah lain adalah tambahan tauco pada kuahnya sehingga terlihat lebih kental dan pekat. Salah satu tauto yang paling enak di Pekalongan adalah Tauto Pak Tjarlam.


Sudah ada sejak tahun 1960-an


Bisa dibilang Tauto Pak Tjarlam adalah salah satu pelopor warung tauto di Pekalongan. Tauto Pak Tjarlam sudah ada sejak tahun 1960-an dan sekarang sudah diteruskan oleh generasi kedua. Namun rasa tauto di sini masih tetap sama karena menggunakan resep yang sudah turun temurun digunakan. Tidak ada perubahan bahan dan bumbu yang digunakan. Semua bumbunya diolah sendiri oleh keluarga Pak Tjarlam.

Tauto Pak Tjarlam


Tauto Pak Tjarlam masih setia menempati tempat yang sama sejak pertama kali dibuka. Yaitu disebuah los kecil di dekat gerbang Pasar Senggol yang terletak di Jalan Dr. Cipto tidak jauh dari Plaza Pekalongan dan Alun-alun. Disebelah persis Pasar Senggol dulunya merupakan sebuah gedung bioskop yang setiap harinya ramai pengunjung. Namun sayangnya bioskop tersebut harus tutup karena krisis moneter.



Warung Tauto Pak Tjarlam memang tidak terlalu besar. Hanya ada beberapa bangku panjang serta meja yang menyatu dengan dinding. Ada beberapa kursi plastik di luar warung yang memang sengaja disediakan untuk pembeli jika warung sedang ramai.


Perpaduan rasa gurih, manis, dan asam


Sama seperti soto di daerah lain. Bahan utama tauto adalah bihun namun dengan kuah kaldu sapi yang cukup kental dan berwarna hitam karena adanya tambahan tauco. Aroma yang ditimbulkan oleh tauco ini juga sangat khas saat tercium hidung.



Bihun disajikan bersama dengan potongan daging sapi dan jeroan  di dalam mangkok kecil kemudian disiram dengan kuah kaldu sapi lalu ditaburi dengan daun dan bawang goreng serta kecap. Untuk yang suka pedas, bisa menambahnya dengan sambal sesuai selera. Sebagai tambahan, kita bisa menikmati tauto bersama dengan nasi atau lontong.

Untuk yang punya penyakit jantung atau latah sepertinya harus bersiap-siap tutup telinga. Pasalnya di warung ini kita akan disuguhi dengan suara gebrakan yang cukup kencang yang berasal dari suara botol kecap dan meja sebelum tauto disajikan :D.

Tauto Pak Tjarlam ini buka setiap hari mulai pukul 08.00-17.00. Jangan lupa mampir ke sini kalau jalan-jalan ke Pekalongan. Selain bisa mencicipi tautonya, kita juga bisa membeli bumbunya untuk dijadikan oleh-oleh.

August 14, 2018

,

Jarak tempuh ke puncak yang cukup singkat, yaitu sekitar 2-3 jam saja membuat Gunung Prau idola bagi banyak pendaki pemula atau orang yang belum pernah naik gunung sama sekali. Ditambah lagi dengan pemandangan yang luar biasa cantik menjadikan Gunung Prau banyak dikunjungi orang setiap harinya.

Sindoro, Sumbing, Merapi, dan Merbabu tampak dari puncak Prau

Hari Senin (06-08-18) lalu adalah kali kedua saya melakukan pendakian di Gunung Prau setelah tahun lalu tepat di Hari Raya Iduladha berhasil menapaki gunung di kawasan Dieng yang mempunyai ketinggian 2.565 mdpl ini. Masih sama seperti tahun lalu, jalur yang digunakan adalah Jalur Patak Banteng. Alasannya tentu saja karena saya sudah pernah melewati jalur tersebut. Kali ini saya mendaki bersama 3 orang teman dari Jakarta dan Paris yang belum pernah naik ke Gunung Prau. 2 orang diantara mereka bahkan sama sekali belum pernah naik gunung.

Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng

Selain jalur pendakian via Patak Banteng, masih ada beberapa jalur pendakian lain yang umum digunakan untuk menuju puncak Gunung Prau seperti jalur Dieng, Kalilembu, Dwarawati, dan Wates.

Basecamp Patak Banteng lokasinya hanya beberapa ratus meter saja dari jalan raya. Tepatnya di Jalan Raya Wonosobo Dieng KM 24 Desa Patak Banteng, Kejajar, Wonosobo. Letaknya tidak terlalu jauh dari gapura yang ada tulisan "Kawasan Wisata Dieng Plateau".

Basecamp Patak Banteng


Basecamp Patak Banteng ini menjadi tempat awal sebelum memulai perjalanan menuju puncak Gunung Prau. Semua pendaki yang datang harus melapor terlebih dahulu kepada petugas. Untuk yang membawa kendaraan pribadi juga bisa menitipkan kendaraan atau helmnya sekaligus.

Ruangan di dalam basecamp cukup besar, biasa digunakan oleh para pendaki sebelum naik dan sesudah turun dari puncak untuk beristirahat sejenak. Selain itu juga dilengkapi dengan toilet yang bisa digunakan untuk mandi atau buang air. Di depan basecamp banyak warung yang menjual makanan atau minuman untuk mengisi perut. Untuk yang belum membawa peralatan mendaki, disekitar basecamp Patak Banteng ini juga ada tempat persewaannya.

Jalur menuju puncak Gunung Prau

Perjalanan dari basecamp Patak Banteng menuju ke puncak Gunung Prau bisa ditempuh kurang lebih selama 2-3 jam dengan jalur yang terbilang mudah untuk pendaki pemula sekalipun. Mungkin untuk yang sudah biasa mendaki gunung perjalanan akan lebih cepat.

Dari basecamp menuju ke Pos I Sikut Dewo ada 2 pilihan. Untuk yang mau menyimpan banyak energi, bisa menggunakan jasa ojek yang ada di depan basecamp. Untuk yang memilih jalan kaki, jalur pertama yang harus dilalui ada pemukiman warga melewati tangga "Ondo Sewu" yang menanjak cukup tinggi. Biasanya di jalur inilah kaki kita mulai melakukan penyesuaian. Dari yang biasa digunakan jalan santai, langsung digunakan untuk naik tanjakan. Setelah ujian pertama ini kita akan melewati perkebunan warga dilanjutkan dengan jalan berbatu atau makadam sampai dengan Pos I.



Perjalanan dari Pos I menuju ke Pos II jalurnya mulai berubah dari jalanan berbatu menuju jalan tanah yang seluruhnya berada ditengah ladang penduduk. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi dengan kebun-kebun kentang yang merupakan salah satu komoditas pertanian di Dieng. Dari kejauhan kita bisa melihat ladang-ladang petani yang berbentuk terasering. Cukup indah buat dipandang mata. Sepanjang rute menuju pos II Canggal Walangan ini terdapat banyak warung yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat. Warung-warung tersebut biasanya menjual semangka, pisang, gorengan, dan berbagai minuman. Sepotong semangka terasa sangat segar saat masuk ke dalam mulut yang sedang tersengal-sengal kehabisan nafas karena berjalan.



Tantangan terberat menuju ke puncak Gunung Prau adalah dari Pos II menuju ke Pos III Cacingan dilanjutkan sampai ke Plawangan. Kenapa? Karena sudah tidak ada lagi warung dan jalur yang harus dilalui cukup menantang. Jalanan tanah dan batuan yang menanjak cukup tinggi. Harus benar-benar berhati-hati melalui jalur tersebut. Dari jalur ini kita bisa melihat Telaga Warna dan Gunung Slamet yang tampak dari kejauhan.

Sunset cantik di Gunung Prau

Kita memang sudah merencanakan pendakian pagi hari supaya bisa istirahat dan menikmati sunset. Saya berangkat dari Jogja menggunakan sepeda motor sekitar jam 05.00 pagi dan sampai di Patak Banteng sekitar pukul 09.30 karena harus berhenti dulu di Pasar Garung untuk membeli beberapa bahan makanan yang belum ada.



Sementara teman-teman saya yang berangkat dari Jakarta sudah sampai di Patak Banteng sejak subuh. Lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Mulai perjalanan kurang lebih pukul 10.00 dan sampai di puncak pada pukul 13.15. Belum terlalu banyak yang sampai puncak saat itu.

Setelah berkeliling, akhirnya kita memutuskan memilih tempat sedikit diatas bukit untuk mendirikan tenda. Selain tempatnya yang cukup lapang, tempat yang kita pilih tepat persis dihadapan gunung-gunung lain. Jadi seandainya besok pagi membuka tenda, kita bisa melihat langsung pemandangan gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Merapi persis di depan mata.



Cuaca siang itu cukup cerah dengan langit yang berwarna biru. Bahkan matahari bersinar cukup terik saat kita mulai mendirikan tenda. Namun menjelang ashar cuaca sedikit berubah, puncak Sindoro dan Sumbing yang tadinya terlihat mulai tertutupi kabut. Bahkan saya sempat pesimis kalau nanti bisa melihat sunset. Tapi sepertinya alam cukup bersahabat. Menjelang matahari terbenam cuaca benar-benar bagus. Kabut tipis yang menutupi puncak Sindoro dan Sumbing mulai turun ke bawah. Semburat merah kekuningan dari arah barat tampak jelas terlihat yang membuat senja semakin syahdu. Udara dingin yang mulai berhembus tidak menghalangi kita untuk menikmati senja yang sangat cantik ini. Perjalanan melelahkan pagi tadi cukup terbayarkan dengan pemandangan cantik ini.

Badai angin dan pasir

Angin masih berhembus seperti biasanya saat kita mulai beristirahat sejenak di dalam tenda sambil berencana melihat bintang nanti malamnya selepas memasak untuk makan malam.
Langit malam itu begitu cantik. Ada ribuan bintang yang bisa dilihat langsung dengan mata bertaburan di langit. Tak perlu ke planetarium untuk bisa melihat kiluan bintang tersebut. Langit tampak seperti sangat bersahabat.

Tapi ternyata beberapa jam kemudian badai angin mulai menyerang. Angin yang tadinya berhembus biasa mulai bergerak sangat cepat membawa debu-debu dan pasir masuk ke dalam tendang karena saking kuatnya hembusan. Tenda juga harus terseok-seok terkena serbuan angin yang sangat kencang tersebut. Tapi beruntung tenda masih bisa bertahan tidak sampai rusak. Hanya saja barang-barang yang di dalam tenda terkena debu semua karena badai berlangsung lebih dari 3 jam. Hanya bisa pasrah waktu itu.

Sunrise cantik Gunung Prau

Setelah alam yang kurang bersahabat semalaman. Saat saya bangun, alam seperti sudah membaik kembali. Angin masih berhembus cukup kencang, namun tak sekencang semalam. Udara pagi pun tidak terlalu dingin, masih dalam batas wajar. Padahal beberapa Minggu terlakhir kawasan Dieng sedang mengalami penurunan suhu yang cukup drastis. Pada pagi hari bahkan suhunya bisa mencapai -5 derajat dan menimbulkan upas atau embun es.

Para pendaki mulai keluar dari tendanya masing-masing siap menyambut sang fajar. Kamera dan handphone disiapkan untuk menangkap moment cantik yang tidak bisa dinikmati disemua tempat ini.  Hadiah dari alam setelah semalaman diguncang badai angin yang kencang.



Pendaki yang naik ke Gunung Prau hari Senin lalu sepertinya adalah para pendaki yang sangat beruntung. Selain disuguhi dengan senja yang syahdu, pagi harinya mereka juga disuguhi dengan sunrise yang sangat cantik. Bisa dibilang ini adalah salah satu sunrise terbaik yang pernah saya lihat sejauh ini. Padahal saat perjalanan naik, banyak berpapasan dengan pendaki yang hendak turun bawa mereka tidak mendapat sunrise karena pagi hari yang cukup berkabut.

Ya, kita mungkin memang sangat beruntung karena bisa melihat keduanya baik sunset maupun sunrise yang sangat cantik. Alam memang tidak pernah diprediksi. Tidak pernah kapok mendaki Gunung Prau. Kapan-kapan pasti akan kembali ke gunung ini lagi.


August 9, 2018

,

Apa yang biasa kamu lakukan kalau malam mingguan? Nonton sama pacar atau nongkrong bareng teman? Sebelum nonton ada baiknya isi perut terlebih dahulu biar kenyang dan bisa lebih konsentrasi menyimak film yang diputar sampai selesai.



Makan enak dan mengenyangkan itu tidak selalu mahal. Banyak restoran atau hotel yang menawarkan menu all you can eat di Jogja. Cukup satu kali bayar, kita bisa makan sepuasnya sampai kenyang dengan berbagai menu yang disediakan. Enak kan? Perut bisa kenyang, tapi isi dompet masih aman.



Salah satu hotel yang menawarkan menu all you can eat dengan harga cukup murah di Jogja adalah Atrium Premiere Hotel Jogja yang terletak di Jalan Laksda Adi Sutjipto 157A Yogyakarta. Lokasinya cukup dekat dengan beberapa mal besar yang ada di Jogja.



Dengan mengusung konsep BBQ, kita akan disuguhi dengan beragam menu yang bisa kita nikmati. Menu andalan BBQ di Atrium Premiere Hotel ini antara lain australian beef steak, fish fillet, sausage beef skewer, bread dan chicken wings.

Semua menu tersebut tersaji dalam keadaan hangat karena dimasak pada saat itu juga. Kita bisa melihat langsung aksi koki saat sedang memasak. Punya request khusus untuk makanan yang ingin dicicipi? Bisa ngobrol langsung dengan sang juru masak yang ada di Pelataran Resto Atrium Premiere Hotel Jogja ini.



Berbagai pilihan sausages bisa jadi pelengkap menyantap menu BBQ. Menu favorit saya adalah chicken wings dan australian beef steak. Rasa dagingnya cukup empuk karena dimasak dengan cara yang tepat. Ditambah lagi dengan cocolan saos dan sayur tambahan yang semakin membuat nikmat rasanya.



Selain menu BBQ, ada juga beberapa menu utama yang bisa dinikmati sebagai menu utama. Ada pasta, butter rice, garlic bread, soup asparagus, dan kentang panggang. Tidak ketinggalan juga ada puding dan potongan buah sebagai penutup.



BBQ all you can eat di Atrium Premiere Hotel Jogja ini bisa dinikmati setiap hari Jumat dan Sabtu mulai pukul 18.00 sampai pukul 22.00 di Pelataran Resto. Cukup dengan membayar Rp65.000/orang kita sudah bisa menikmati BBQ yang enak sepuasnya. Dimana lagi bisa BBQ-an murah tapi enak?

Penasaran mau coba? Langsung aja ke Atrium Premiere Hotel Jogja. Bukan cuma tamu hotel saja yang bisa menikmati, tetapi juga orang luar. Selamat mencoba!

Atrium Premiere Hotel Jogja

  • Jalan Laksda Adi Sutjipto No.157A Yogyakarta
  • Telp: (0274) 555 181
  • Email: sm@AtriumPremiere.com
  • Website: www.AtriumPremiere.com



Follow me @novaaristianto